KONSEP KESEHATAN MENURUT ISLAM

KONSEP KESEHATAN MENURUT ISLAM
Pendahuluan
Kesehatan merupakan suatu nikmat dari Allah SWT yang sangat berharga yang tiada tara nilainya dan tiada seorangpun menginginkan dirinya dalam keadaan sakit / menderita penyakit.
Berbagai cara banyak dilakukan oleh manusia untuk bisa menjaga kesehatannya mulai dari cara tradisional sampai dengan cara yang paling modern pada saat sekarang ini. Banyak sudah penelitian-penelitian dilakukan dan penemuan-penemuan baru diciptakan untuk menjaga kesehatan tubuh dan upaya untuk penyembuhan bagi penderita suatu penyakit agar bisa sembuh dengan segera.
Upaya sudah banyak dilakukan untuk bisa menjaga kesehatan tubuh manusia, disatu sisi penemuan-penemuan banyak membantu dalam proses menjaga kesehatan namun dilain pihak semakin banyak pula manusia mengalami gangguan-gangguan, baik pada fisik maupun psikhe (kejiwaan) sehingga ia tidak mampu lagi memfungsinya dirinya dengan wajar, yang menyebabkan daya tahan tubuhnya menurun sehingga terkena banyak penyakit, ditambah lagi penyakit-penyakit yang baru ditemukan di abad yang modern ini.  Kenapa hal ini terjadi?, Seberapa besar pengaruh penemuan alat kesehatan berpengaruh terhadap kesehatan manusia?. Sudahkan penelitian-penelitian yang dilakakukan pada saat ini mencakup kepada kesehatan jiwa atau hanya sebatas pada fisik saja?, Bagaimanakah konsep Islam tentang kesehatan?
Hal ini merupakan PR dan tugas besar bagi para individu khususnya para pakar kesehatan, ilmuan, agamawan dan juga para mahasiswa yang sedang mempelajari ilmu kesehatan khususnya jika ditinjau dari studi psikologi islam agar dapat bagaimana menemukan konsep baru tentang kesehatan yang mencakup sehat fisik dan sehat jiwa sehingga terbentuk manusia yang berkwalitas, pintar, cerdas, sehat dan bertaqwa.
 
Sakit Dalam Pandangan Islam.
Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan umat manusia secara beramai-ramai memburu kemewahan hidup, disisi lain masih banyak manusia yang terkungkung dengan penderitaan hidup. Akibat ketidak mampuan mengatasi kesulitan hidup banyak manusia yang mengalami kegoncangan jiwa karena tertekan oleh suatu kondisi. Kondisi yang menekan ini membuat jiwanya goncang lalu menimbulkan penderitaan bathin atau muncul bermacam-macam penyakit pada fisik.[1]
            Dalam perjalanan hidupnya didunia, manusia menjalani tiga keadaan penting: sehat, sakit atau mati. Kehidupan itu sendiri selalu diwarnai oleh hal-hal yang saling bertentangan, yang saling berganti mengisi hidup ini tanpa pernah kosong sedikit pun.  Sehat dan sakit merupakan warna dan rona abadi yang selalu melekat dalam diri manusia selama dia masih hidup. Tetapi kebanyakan manusia memperlakukan sehat dan sakit secara tidak adil. Kebanyakan mereka menganggap sehat itu saja yang mempunyai makna. Sebaliknya sakit hanya dianggap sebagai beban dan penderitaan, yang tidak ada maknanya sama sekali. Orang yang beranggapan demikian jelas melakukan kesalahan besar, sebab Allah SWT selalu menciptakan sesuatu atau memberikan suatu ujian kepada hambanya pasti ada hikmah / pelajaran dibalik itu semua. (Q.S. Shaad : 27)
Walaupun demikian tidak seorang pun menginginkan dirinya sakit, namun kalau dia datang manusia tidak kuasa untuk menolaknya. Dalam keadaan sakit seseorang selain mengeluhkan penderitaan fisiknya juga biasanya disertai gangguan/guncangan jiwa dengan gejala ringan seperti stes sampai tingkat yang lebih berat. Hal ini wajar karena secara fisik seseorang yang sedang sakit akan dihadapkan kepada tiga alternatif kemungkinan yang akan dialaminya, yaitu : sembuh sempurna, sembuh disertai cacat sehingga terdapat kemunduran menetap pada fungsi-fungsi organ tubuhnya, atau meninggal dunia. Alternatif meninggal umumnya cukup menakutkan bagi mereka yang sedang sakit, karena mereka seperti juga kebanyakan diantara kita belum siap menghadapi panggilan malakul maut. Kecemasan atau ketakutan pada penderita ini, dapat menyebabkan timbulnya stess psikis yang justru akan melemahkan respons imonologi (daya tahan tubuh) dan mempersulit proses penyembuhan diri bagi mereka yang sakit. Menghadapi kondisi seperti ini bimbingan ruhani sangat diperlukan agar jiwa manusia tidak terguncang dan menjadi lebih kuat, yang pada akhirnya akan membantu proses kesembuhan
            Gangguan psikis lainnya yang sering dialami oleh orang sakit adalah rasa putus asa, terutama bagi penderita yang kronis dan susah sembuh. Karena tipisnya aqidah (keimanan) kemudian muncul keinginan pada diri orang sakit untuk mengakhiri hidup dengan jalan yang tidak diridhai Allah SWT. Semua ini diakibatkan oleh hilangnya keyakinan kepada rahmat Allah SWT, sehingga kadang kala ada pasien yang sengaja meninggalkan ibadah sehari-hari, seperti doa, dzikir, atau sholat. Akibatnya semakin gersanglah nurani orang sakit tersebut dari sibghah ilahi rabbi.
            Sakit sebagai salah satu ciptaan Allah SWT yang ditimpakan kepada manusia juga pasti ada maksudnya. Salah satu hikmah Allah SWT kepada hamba-Nya adalah sebagai ujian dan cobaan untuk membuktikan siapa-siapa saja yang benar-benar beriman. Firman Allah SWT :
Artinya : 214- Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.S. Al Baqarah : 214) [2]
Demikianlah Allah SWT akan menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan. Dia menguji manusia berupa kesehatan, agar mereka bersyukur dan mengetahui keutamaan Allah SWT serta kebaikan-Nya kepada mereka. Kemudian Allah SWT juga akan menguji manusia dengan keburukan seperti sakit dan miskin, agar mereka bersabar dan memohon perlindungan serta berdo'a kepada-Nya.
Amat banyak orang yang tidak memahami kenapa ia harus sakit, sehingga secara tidak sadar ia menganggap bahwa penyakit yang dideritanya tersebut sebagai malapetaka atau kutukan Allah yang dijatuhkan kepadanya. Tidak sedikitpun orang yang tatkala ditimpa penyakit menjadi putus asa, kehilangan pegangan, bahkan berburuk sangka kepada Allah SWT. Lalu timbul rasa tidak puas kepada Allah SWT, merasa bahwa dengan sakitnya itu  Allah bersikap tidak adil, sehingga ia tidak lagi menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya sebagai hamba Allah. Padahal di waktu sehat, ia selalu mengucapkan dalam salatnya :
Artinya : 162- "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam" (Q.S. Al An'am : 162)
            Dalam pandangan Islam, penyakit merupakan cobaan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menguji keimanannya. Ketika seseorang sakit disana terkandung pahala, ampunan dan akan mengingatkan orang sakit kepada Allah SWT. Aisyah pernah meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda : 'Tidak ada musibah yang menimpa diri seorang muslim, kecuali Allah mengampuni dosa-dosanya, sampai-sampai sakitnya karena tertusuk duri sekalipun" (H.R. Buchari)[3].
 
 Sabda Rasulullah SAW :
وإن الله تعالى أذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضاومن فله السخط
 (رواه ابن ماجه و الترمذى)
Artinya : Dan sesungguhnya bila Allah SWT mencintai suatu kaum, dicobanya dengan berbagai cobaan. Siapa yang ridha menerimanya, maka dia akan memperoleh keridhoan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha) dia akan memperoleh kemurkaan Allah SWT. (H.R.  Ibnu Majah dan At Turmudzi)
Dalam hadist  Rasulullah SAW bersabda :
عن ابي هريرة رضي الله عنه : عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما يصيب المسلم من نصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولاغم حتى شوكة يشاكها إلا :فر الله بها خطاياه (رواه البخارى و مسلم)
Artinya : Dari Abu Hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW. Bersabda : Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kesusahan, kesedihan, penyakit, gangguan menumpuk pada dirinya kecuali Allah SWT hapuskan akan dosa-dosanya             (H.R. Bukhari dan Muslim).
            Allah SWT menciptakan cobaan antara lain untuk mengingatkan manusia terhadap rahmat-rahmat yang telah diberikan-Nya. Allah SWT memberikan penyakit agar setiap insan dapat menyadari bahwa selama ini dia telah diberi rahmat sehat yang begitu banyak. Namun kesehatan yang dimilikinya itu sering kali di abaikan, bahkan mungkin disia-siakan. Padahal ia mempunyai harga yang sangat bernilai tiada tolak ukur dan bandingannya.
            Disamping itu, sakit juga digunakan oleh Allah SWT untuk memperingatkan manusia atas segala dosa-dosa dan perbuatan jahatnya selama hidup di dunia. Kalau dahulu seorang insan yang banyak berbuat kesalahan tidak berfikir tentang dosa dan pahala, maka disaat sakit biasanya manusia teringat akan dosa-dosanya sehingga ia berusaha untuk bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT
Anjuran Untuk Berobat
Metode pengobatan didunia kedokteran pada umumnya memang hanya mengandalkan terapi fisik belaka, tanpa melihat pasien dari segi ruhaniyahnya. Meskipun diakui bahwa kondisi psikis yang stabil sangat menunjang penyembuhan diri, terlebih lagi bagi orang yang menderita penyakit psikomatik, yaitu penyakit fisik yang diakibatkan oleh stress psikis. Tetapi mungkin dikarenakan adanya beberapa kendala administratif atau misalnya adanya perbedaan agama antara dokter dengan pasiennya, menyebabkan pengobatan ruhani ini menjadi sukar untuk dilaksanakan.
            Menurut paham kesehatan jiwa, seseorang dikatakan sakit apabila ia sudah tidak mampu lagi memfungsikan dirinya secara wajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan kata lain manusia tersebut telah mengalami ganggung fisik atau bahkan mungkin gangguan kejiwaaan. Meskipun gangguan jiwa itu dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara tidak langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidakmampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena mereka tidak produktif dan efisien.[4]
            Rasulullah SAW bersabda :
تداوواعباد الله فإن الله تعالى لم يضع له دواءغير داء واحد الحرام (رواه أحمد عن اسامة بن شريك)
"Berobatlah, wahai para hamba Allah! Sesungguhnya Allah tidak menciptakan penyakit melainkan Ia menciptakan pula obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua (Dirawikan oleh Ahmad dari Usamah bin syuraik)[5]
Setiap manusia haruslah menyadari bahwa kemiskinan, kebodohan dan penyakit adalah trio yang mengerikan. Ketiga hal tersebut merupakan penghalang utama terhadap kemajuan. Kemiskinan merupakan puncak kebodohan, sementara kemiskinan dan kebodohan puncak penyakit. Yang dimaksud dengan kebodohan disini adalah tentang berbagai ajaran Islam. Penulis masih belum mengerti kenapa sementara kaum muslimin bila sakit enggan dan takut berobat? Mereka mengeluh kesakitan, tetapi tidak mau pergi ke dokter untuk berobat, kenapa hal ini sampai terjadi?
Sebagian orang mengatakan, hal ini disebabkan karena kemiskinan, mereka tidak mampu membayar dokter dan menebus obat. Pada kasus-kasus tertentu, alasan ini dapat diterima. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang dapat berobat secara gratis, namun mereka tetap tidak mau berobat, malah mereka mengatakan: " Allah SWT yang akan menyembuhkan". Mereka mengira dengan keyakinan seperti itu Allah SWT akan mengasihinya.
Memang benar Allah SWT Maha Penyembuh. Hal itu tidak seorang muslim pun yang meragukannya. Tetapi, bagaimana cara dan metodenya?  Ini diserahkan kepada manusia yang telah diberi Allah berupa potensi akal untuk berfikir, dan diberi pengarahan oleh Rasulullah SAW dengan pengarahan yang benar : " Allah SWT tidak menurunkan penyakit kecuali diturunkan-Nya pula obat". Oleh karena itu bila seseorang ditimpa penyakit diperintahkan untuk berusaha mencari obat supaya sembuh.
Dalam agama (Islam) bagi mereka yang sakit dianjurkan untuk berobat kepada ahlinya disertai dengan berdo’a dan berdzikir. Bagi pemeluk agama (Islam) do’a dan dzikir merupakan salah satu bentuk komitmen keagamaan/keimanan seseorang[6].  Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran yang pesat timbul kesadaran diantara para ahli biologi bahwa pendekatan biologis saja tidak cukup untuk menangani orang yang terkena penyakit. Kita menyadari bahwa manusia sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang sempurna dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti mental spiritual, sosial budaya, dan unsur biologisnya sendiri. Dengan demikian pedekatan yang menyeluruh (holistik) merupakan pendekatan yang paling tepat dalam pelayanan kesehatan.
            Metodologi pengobatan nabi terhadap suatu penyakit biasa dilakukan dengan tiga cara : pertama, dengan menggunakan obat-obatan, kedua, Dengan menggunakan obat-obatan bernuansa wahyu. Ketiga, kombinasi dari kedua jenis pengobatan tersebut.[7] Seperti yang diketahui, mereka yang spesialis tentang masalah penyakit dan obat adalah para dokter, karena itu berobatlah dan minta nasehatlah kepada mereka, tentu saja disertai dengan tawakal kepada Yang Maha Sembuh (berupa do'a dan dzikir sebagai pelengkap terapi medik).
Suatu hal yang dapat disimpulkan dari hadist Rasulullah SAW tersebut diatas ialah memberikan harapan yang sangat besar kepada orang-orang yang sakit, bahwa setiap penyakit ada obatnya. Mereka yang sakit sangat sukar membuka pintu harapan dan optimisme untuk dirinya sendiri, sebab kondisi jiwa mereka dalam keadaan tidak normal. Mereka juga dianjurkan Rasulullah SAW berharap sehat dengan segera, tidak boleh putus asa terhadap masa depan, berdo'a dan berdzikir untuk proses percepatan kesembuhan. Hal ini merupakan suatu faktor yang efektif untuk membantu kesembuhan seseorang, disamping obat. (insya Allah).  
Konsepsi Kesehatan Dalam Islam
Islam adalah agama untuk semesta alam, dimana didalamnya selalu mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan dan mengajak manusia untuk beribadah, berusaha, dan beramal yang dilandasi keimanan hanya kepada Allah semata. Sebagai agama yang rahmatan lil'alamin, Islam mempunyai aturan-aturan / hukum syariat yang melindungi agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan keturunan. Dan tiga dari keenam hal tersebut yakni jiwa, jasmani dan akal sangat berkaitan erat dengan kesehatan, oleh karena itu ajaran Islam sangat sarat dengan tuntunan bagaimana memelihara kesehatan Jasmani dan kesehatan ruhani. [8]  
Pepatah dalam Islam mengatakan didalam Iman yang kuat terdapat jiwa yang sehat dan tubuh yang kuat. Hal inilah yang mendasari bahwa untuk manusia bisa selalu sehat adalah selalu melakukan beberapa upaya dan cara untuk bisa menjaga kesehatannya yakni dengan cara menjaga kesehatan fisik dan jiwa yang dilandasi dengan keimanan.
Dalam bahasa Indonesia  sering didengar istilah sehat wal afiat, yang dua kalimat tersebut (sehat dan afiat) dimaknakan sama yakni sebagai keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya, yakni bebas dari penyakit, atau lebih dikenal dengan kesehatan fisik, mental dan kesehatan masyarakat.
Substansi dari istilah kesehatan tersebut sepenuhnya dapat ditemukan dalam ajaran Islam, tetapi yang perlu digaris bawahi ialah bahwa pengertian kesehatan dalam Islam lebih merujuk kepada pengertian yang terkandung dalam kata afiat. Sebab sehat dan afiat itu mempunyai makna yang berbeda kendati tak jarang hanya disebut dengan salah satunya, karena masing-masing kata tersebut dapat mewakili makna yang terkandung dalam kata yang tidak disebut.
Dalam kamus bahasa arab sehat diartikan sebagai keadaan baik bagi segenap anggota badan dan afiat diartikan sebagai perlindungan Allah SWT untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipudaya. Perlindungan Allah itu sudah barang tentu tidak dapat diperoleh secara sempurna kecuali bagi orang-orang yang mematuhi petunjuk-Nya. Dengan demikian makna afiat dapat diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Untuk lebih memahami makna sehat dan afiat, berikut diberikan suatu pemaknaan dari organ tubuh yang ada. Mata yang sehat misalnya adalah mata yang mudah digunakan untuk melihat dan membaca tanpa memerlukan bantuan kacamata, tetapi mata yang afiat adalah mata yang mudah digunakan untuk melihat objek-objek yang bermanfaat dan halal, namun sulit digunakan untuk melihat objek-objek yang diharamkan, karena itulah sebenarnya fungsi yang diharapkan dari penciptaan mata.
Kesehatan Fisik.
            Majlis Ulama Indonesia dalam musyawarah Nasional Ulama tahuun 1983 merumuskan kesehatan sebagai ketahanan “jasmaniah, ruhaniyah dan social” yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunan-Nya, dan memelihara serta mengembangkannya. Nabi Muhammad SAW bersabda bersabda bahwa “Mukmin yang kuat itu lebih disukai Allah dibanding  mukmin yang lemah”.  Hadist ini mempunyai makna bahwa kesehatan fisik sangat perlu diperhatikan yang mengandung ungkapan tentang kesehatan, baik kesehatan tubuh maupun kesehatan otak.
            Tuntunan agama dalam hal memelihara kesehatan, sejalan dengan pola ajaran Islam secara menyeluruh, yakni mencegah terjadinya sesuatu yang berakibat buruk atau mengambil langkah-langkah prefentif seperti yang diungkapkan dalam kaidah “mencegah lebih baik dibanding mengobati.
 Setiap insan sudah sangat mengenal ungkapan ‘bersih pangkal sehat” dan  mengetahui sabda rasulullah SAW :“kebersihan merupakan sebagian dari iman”. Agama Islam menyangkut kebersihan bahkan masuk dalam system peribadatan tertentu menentukan sah atau tidaknya suatu amalan ibadah, seperti berwudhu, membersihkan kotoran buang air besar dan air kecil, (istinja), mandi janabat, disamping yang sunnah, seperti bersiwak, cuci tangan sebelum makan, larangan kencing diair yang tidak mengalir, atau di bawah pohon atau ditempat-tempat umum fasilitas umum dan lain sebagainya.
Dalam al-qur’an, kebersihan digandengkan dengan taubat seperti firman Allah SWT :
 
Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Q.S. Al-Baqarah ; 222)
 
 
Artinya : Bersihkan pakaianmu dan tinggalkanlah segala kekotoran (Q.S. Al-Mudatstsir : 4-5)
Dari ayat tersebut dipahami bahwa taubat menghasilkan kesehatan mental dan kesehatan lahiriyah yang menghasilkan kesehatan fisik dan dari munasabah ini dapat disimpulkan bahwa kebersihan fisik merupakan subsistem dari system kebersihan hidup manusia beragama yang dimensional, horizontal dan vertical. Oleh karena itu tak heran jika ada ungkapan popular dari hadist rasulullah yang berbunyi Keberishan merupakan sebagian dari Iman.
Prinsip pencegahan juga nampak dari ajaran Islam tentang makanan. Firman Allah SWT :
Artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al-A’raf ; 31)
            Dalam ayat ini diingatkan agar manusia setiap ingin menjalankan ibadah hendaklah memakai pakaian yang bersih lagi indah, Karena Allah SWT itu indah dan menyukai keindahan. Selain itu al-qur’an melarang minum atau makan sesuatu secara berlebih-lebihan. Ditemukan pula peringatan dalam hadist yang intinya menyebutkan bahwa pola makan yang salah akan menjadi biang segala penyakit, karena perut itu merupakan sumber penyakit. Al-qur’an juga mengharamkan makanan dan minuman tertentu karena ia dinilai kotor atau rijs.  Sesuai firman Allah SWT :
Artinya : Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Al-An’am : 145)
            Kata rijs mempunyai arti keburukan bidi pekerti atau kebobrokan mental. Dari ayat diatas dapat ditarik satu pengertian bahwa cara berfikir dan cara merasa manusia dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsinya. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makan yang haram lebih pantas dineraka, artinya  orang yang hidupnya ditopang oleh makanan haram memiliki kecendrungan kepada perbuatan yang haram.
            Prinsip pencegahan dari berkembang biaknya penyakit seperti yang dianut para ahli kesehatan dengan karantina juga sudah dikenal sejak zaman nabi., yaitu ketika timbul penyakit tho’un. Ketika itu nabi melarang orang mengunjungi daerah wabah, tetapi kepada orang yang sudah terlanjur berada di daerah wabah, justru tidak boleh meninggalkan daerah itu.
            Para ulama sering mengkaitkan penyakit dengan siksa Allah SWT. Seorang mufasssir yang bernama Al-Biqa’i bahkan menyebut penyakit sebagai cambuk Allah di bumi yang dengannya Allah mendidik manusia. Logika penyakit sebagai azab adalah sejalan dengan pengertian takwa sebagai usaha menghindari diri dari siksa Allah. Orang yang mengkonsumsi makanan kotor atau haram pada dasarnya melanggar perintah Allah SWT, dan penyakit sebagai akibat dari perbuatan itu adalah merupakan hukuman dari Allah SWT, sebagaimana juga hilangnya keberkahan bumi sebagai azab, akibat dari perilaku penduduk negri yang mendustakan iman dan taqwa (Q.S. Al-A’raf : 96)
            Kepada orang yang terkena penyakit, agama memerintahkan untuk berobat, seperti disebutkan dalam hadist nabi bahwa Allah SWT tidak menurunkan suatu penyakit kecuali pasti menurunkan pula obat penangkalnya (H.R. Abu Dawud). Dalam dunia kedokteran kedokteran banyak persolan yang tidak sederhana permasalahannya menyangkut pengobatan suatu penyakit sehingga terkadang cara pengobatan itu bertentangan dengan ajaran agama. Beberapa prinsip dan kesepakatan dalam hokum agama yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan dapat membantu menemukan pandangan Islam tentang persoalan pengobatan yang rumit. Prinsip-prinsip itu antara lain ;
1.      Agama Islam bertujuan memelihara agama, jiwa akal, kesehatan jasmani dan harta benda manusia.
2.      Anggota badan dan jiwa manusia merupakan anugrah Allah yang mempunyai maksud penciptaan untuk dimanfaatkan, bukan untuk dijual, atau disalahgunakan.
3.      Hak-hak azazi manusia dihormati tanpa memandang ras atau agamanya.
4.      Dilarang merendahkan derajat manusia, dalam keadaan hidup maupun mati.
5.      Kepentingan orang hidup harus didahulukan dari kepentingan orang mati.
Dari prinsip inilah para ulama berpijak dalam membicarakan masalah-masalah keluarga berencana, transpalasi organ tubuh, bayi tabung, cloning dan lain sebagainya.
  Kesehatan Jiwa (Mental)
            Kalau kita memperhatikan kehidupan masyarakat sehari-hari, akan banyak dijumpai orang dengan ragam perangainya. Ada orang yang selalu nampak riang gembira dan bahagia meski hidupnya amat sederhana. Dalam segala keadaan ia tetap menjadi dirinya, disukai orang, tidak mempunyai musuh, dan pekerjaan selalu berjalan lancar. Sebaliknya ada orang yang selalu murung, mengeluh dan kecewa, padahal secara lahir fasilitas hidupnya tercukupi atau lebih dari cukup. Ia tidak bisa akur dengan orang lain, tidak bersemangat dalam melaksanakan tugas. Ia selalu gelisah, cemas dan tidak pernah mencapai kepuasan batin. Disamping itu ada juga dijumpai orang yang pekerjaannya mengganggu orang lain, melanggar hak dan ketenangan orang lain, menyebarkan gosip, fitnah, adu domba, menganiaya, menyeleweng, menipu, dan perilaku menyimpang lainnya.
            Itu semuanya berhubungan dengan tingkat kesehatan mentalnya, kesehatan jiwanya. Dalam al-qur’an manusia disebut sebagai basyar dan sebagai insan disamping sebagai bani adam. Basyar lebih merujuk pada persamaan manusia sebagai fisik, sedangkan insan merujuk kepada mahluk yang berfikir dan merasa. Sebagai basyar manusia banyak kesamaannya, tetapi sebagai insan manusia berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu bisa menyangkut kecerdasan, tabiat, karakter, dan temperamennya.
            Dalam Al-qur’an , aspek berfikir dan merasa manusia diungkapkan dengan qalb, aql, bashirah, nafs, dan syahwat. Tingkatan kejiwaan manusia disebut dalam al-Qur’an dengan nafs zakiyah (jiwa yang suci) nafs muthmainnah (jiwa yang tenang) nafs lawwamah (jiwa yang selalu menyesali diri) dan nafs ammarah (jiwa yang selalu menyuruh berbuat keburukan). Al-Qur’an juga tak kurang dari sebelas kali menyebutkan penyakit hati disamping menyebut adanya hati yang sehat.
            Dalam bahasa arab, penyakit antara lain didefinisikan sebagai segala sesuatu yang mengakibatkan manusia melampaui batas keseimbangan/kewajran dan mengantar kepada terganggunya fisik, mental, dan bahkan kepada tidak sempurnanya amal seseorang. Melampaui batas, satu sisi membawa implikasi pada gerak berlebihan, dan pada sisi lain membawa implikasi kearah kekurangan.
Akal yang sakit, dari gerak berlebihan berwujud kelicikan, tetapi jika sakitnya bersumber dari arah kekurangan maka sakitnya berujud ketidaktahuan. Ketidaktahuan akal membawa membawa kepada keraguan dan kebimbangan. Penyakit kejiwaan lain yang bersumber dari gerak berlebihan bisa berujud, angkuh, benci, dendam, fanatisme, serakah dan kikir. Sedangkan penyakit yang bersumber dari arah kekurangan bisa bewrujud pesimis, rendah diri, cemas, takut dan sebagainya.
Dalam pandangan Islam, hidup di dunia adalah bagaikan orang yang sedang menanam diladang, sementara masa panen yang sebenarnya berada dikehidupan yang lain. Hidup didunia secara keseluruhan adalah pekerjaan menanam sementara buahnya dipetik dimasa yang lain. Ungkapan lain menyebutkan bahwa hidup didunia bagaikan orang yang sedang menyebrang, dunia adalah jembatan, sedangkan ujung dari jembatan dunia ini adalah akhirat. Dunia dan akhirat dalam pandangan Islam bukan merupakan dua hal yang terpisah, tetapi bersambung, berurutan, dimana dunia dipandang sebagai kehidupan fana sementara akhiratlah kehidupan yang sebenarnya (Q.S. Al-Ankabut : 64).
Pandangan hidup seorang muslim tercermin dalam do’a yang selalu dibaca:
“Ya Allah berikanlah kepada kami kesejahteraan didunia dan akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa api neraka”
Jika konsep kesehatan mental dari para pakar kesehatan barat hanya berorientasi kepada empat hal, yaitu : diri sendiri, hubungannya dengan orang lain, lingkungan alam, hidup didunia saja. Sedangkan dalam pandangan Islam kesehatan mental di samping berorientasi kepada empat hal tersebut diatas, juga didukung oleh empat komponen  lainnya yakni : hubungan vertikalnya dengan Tuhan, tingkat kekhusu’an dalam beribadah, kualitas akhlaqnya dan keyakinannya kepada hari akhirat.
Kesehatan mental dalam Islam berhubungan dengan konsep kebahagiaan. Dan sumber kebahagiaan manusia datang dari dua arah, yaitu dari manusia dan dari Allah SWT. Manusia yang ingin memperoleh kebahagiaan, maka ia harus beriman, beribadah dan beramal shaleh, sementara kebahagiaan yang datang dari Allah SWT dapat berupa rahmat dan syafa’at. (wallahu a’lam bish-showab)


[1] Mengatasi Kegoncangan Jiwa (perspektif Al Qur'an dan saints). Drs. Mas Rahim Salaby. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2000. Hal 6
[2] Ayat Suci Al Qur'an diambil dari cd program The Holy Qur'an Ver. 7.10 M dan Tahfidz al Qur'an Ver 2.2
[3] Bimbing ruhani bagi pasien, Prof.Dr. Sujudi, Al Bayan, 1995, hal 9
[4] Al Qur'an ilmu kedokteran dan kesehatan jiwa. Prof. Dr. dr. Dadang Hawari, psikiater. PT Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta. 2004. hal 2
[5] Hadist dikutip dari buku "Rasulullah bicara tentang kesehatan", Dr. Nabil Ath Thawil. CV Esya, Jakarta. 1999. hal 69
[6] Makalah do’a dan dzikir sebagai obat (prayer as medicine), Prof Dr. dr. H. Dadang Hawari, psikiater. yang disampaikan pada saat seminar Islamic Psycology Fair di  Auditorium Universitas Indonesia dengan tema “Menyengsong Lahirnya Psikoterapi Islam” pada tanggal  6 maret 2005.
[7] Ath-Thib nabwi. Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Daarul Fikr, Beirut. 1999 Hal.25
[8] Konseling Agama :Teori dan Kasus, Dr. Achmad Mubarak, MA, PT.Bina Rena Pariwara, 200, Cet I, Hal XIII

Komentar

Postingan Populer