PERILAKU ORANG SEHAT DAN PERILAKU ORANG SAKIT
PERILAKU ORANG SEHAT
DAN
PERILAKU ORANG SAKIT
Keadaan sehat dan sakit pada
prinsipnya mempengaruhi perilakunya. Orang dituntut melakukan peran-peran
tertentu sesuai dengan keadaannya, sehat atau sakit. Peran yang harus dilakukan
oleh seseorang sesuai dengan keadaan sehat dan sakit itu disebut health
and sick roles. Orang yang sehat
dituntut untuk melakukan peran-peran tertentu dan bertanggung jawab terhadap
diri dan orang lain. Sementara orang yang sakit dituntut untuk berperan sebagai
orang yang sakit, dibebaskan dari tanggung jawab normalnya, bahkan tidak perlu
bertanggung jawab terhadap diri dan orang lain.
Orang
yang sakit secara fisik maupun mental sama-sama memiliki perilaku dan peran
sakit. Orang yang mengalami skizoprenia, depresi atau gangguan mental lainnya
dibebaskan dari kewajibannya bekerja, atau menjalankan tugas-tugas rutin
keluarganya, sama halnya dengan orang yang menderita sakit jantung misalnya.
Justru kewajiban mereka adalah beristirahat atau mencari kesembuhan melalui
cara-cara yang dapat diterima secara pribadi maupun kultural.
Ada beberapa teori
mengenai perilaku sehat dan perilaku sakit:
A. PERILAKU
SEHAT
Becker(1979) menguraikan
bahwa perilaku sehat ini mencakup:
- Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang di sini dalam arti kualitas (mengandung zat-zat gizi yang diperlukan tubuh), dan kuantitas dalam arti jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh (tidak kurang, tetapi juga tidak lebih).
Secara kualitas mungkin di Indonesia dikenal dengan ungkapan empat sehat lima sempurna.
- Olahraga teratur, yang juga mencakup kualitas (gerakan), dan kuantitas dalam arti frekuensi dan waktu yang digunakan untuk olahraga. Dengan sendirinya kedua aspek ini akan tergantung dari usia, dan status kesehatan yang bersangkutan.
- Tidak merokok. Merokok adalah kebiasan jelek yang mengakibatkan berbagai macam penyakit. Ironinya kebiasaan merokok ini, khususnya di Indonesia seolah-olah sudah membudaya. Hampir 50% penduduk Indonesia usia dewasa merokok. Bahkan dari hasil suatu penelitian, sekitar 15% remaja kita telah merokok. Inilah tantangan pendidikan kesehatan kita.
- Tidak minum minuman keras dan narkoba. Kebiasaan minum miras dan mengkonsumsi narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya lainnya, juga cenderung meningkat. Sekitar 1% penduduk Indonesia dewasa diperkirakan sudah mempunyai kebiasaan minum miras ini.
- Istirahat cukup. Dengan meningkatkan kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk penyesuaian dengan lingkungan modern, mengharuskan orang untuk bekerja dan berlebihan, sehingga kurang waktu istirahat. Hal ini juga dapat membahayakan kesehatan.
- Mengendalikan stress. Stress akan terjadi pada siapa saja, dan akibatnya bermacam-macam bagi kesehatan. Lebih-lebih sebagai akibat dari tuntunan hidup yang keras seperti diuraikan di atas. Kecenderungan stress akan meningkat pada setiap orang. Stress tidak dapat kita hindari, maka yang penting agar stress tidak menyebabkan gangguan kesehatan, kita harus dapat mengendalikan atau mengelola stress dengan kegiatan-kegiatan yang positif.
- Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya: tidak berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks, penyesuaian diri kita dengan lingkungan, dan sebagainya.
Perubahan Perilaku Orang Sehat
Konflik adalah
suatu keadaan yang timbul sebagai akibat adanya dua atau lebih keinginan,
kondisi atau dorongan yang tidak harmonis. Terdapat tiga jenis konflik, yaitu :
- Approach-approach conflict, adalah konflik yang terjadi apabila keinginan, kondisi atau dorongan yang ada, sama-sama dikehendaki dan akibatnya positif.
Contoh :
Seorang anak lulusan SMU
dengan NEM yang tinggi, mengikuti ujian UMPTN dan Sipensimaru Akper. Ternyata
kedua-duanya dinyatakan lulus dan diterima. Dalam memilih mana yang akan
dimasuki, pasti dalam dirinya timbul dorongan yang bertentangan, namun keduanya
positif.
- Avoidance-avoidance conflict, adalah konflik yang terjadi apabila semua keinginan, kondisi, dan dorongan yang ada sama-sama tidak dikehendaki, dan bersifat negatif. Peribahasa mengatakan “ibarat makan buah simalakama”.
Contoh:
Seorang penderita Ca Mamae
yang disarankan untuk operasi. Padahal penyakit tersebut apabila dioperasi
belum menjamin kesembuhan karena sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Bila
tidak dioperasi penderitaan yang dirasakan berkepanjangan.
- Approach-avoidance conflict, adalah konflik yang terjadi apabila keinginan, kondisi, dan dorongan yang dikehendaki mengandung resiko positif dan negatif yang seimbang.
Contoh:
Seorang peserta Sipensimaru
JPT (Jenjang Pendidikan Tinggi), diterima sebagai mahasiswa D-III keperawatan
(positif), namun disisi lain keadaan sosial ekonomi orang tua untuk membiayai
tidak memungkinkan (negatif).
Frustrasi,
adalah suatu keadaan yang terjadi akibat konflik berkepanjangan atau tidak
terselesaikan atau ada perasaan kecewa berat karena tujuan yang dicita-citakan
tidak tercapai.
Marah, apabila
frustrasi yang dialami oleh seorang individu tidak dapat dikelola dengan baik,
akan timbul perilaku mudah marah.
B. PERILAKU
SAKIT
Perilaku
sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang memantau tubuhnya;
mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang dialami; melakukan upaya
penyembuhan; dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan.
Seorang
individu yang merasa dirinya sedang sakit, perilaku sakit bisa berfungsi
sebagai mekanisme koping.
Penyebab Perilaku Sakit
Menurut Mechanic sebagaimana
diuraikan oleh Solito Sarwono (1993) bahwa penyebab perilaku sakit itu sebagai
berikut :
- Dikenal dan dirasakannya tanda dan gejala yang menyimpang dari keadaan normal.
- Anggapan adanya gejala serius yang dapat menimbulkan bahaya.
- Gejala penyakit dirasakan akan menimbulkan dampak terhadap hubungan keluarga, hubungan kerja, dan kegiatan kemasyarakatan.
- Frekuensi dan persisten (terus-menerus, menetap) tanda dan gejala yang dapat dilihat.
- Kemungkinan individu untuk terserang penyakit.
- Adanya informasi, pengetahuan, dan anggapan budaya tentang penyakit.
- Adanya perbedaan interpretasi tentang gejala penyakit.
- Adanya kebutuhan untuk mengatasi gejala penyakit.
- Tersedianya berbagai sarana pelayanan kesehatan, seperti: fasilitas , tenaga, obat-obatan, biaya, dan transportasi.
Menurut Sri Kusmiyati dan
Desmaniarti (1990), terdapat 7 perilaku orang sakit yang dapat diamati, yaitu:
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Perilaku Sakit
- Faktor Internal
a.
Persepsi individu terhadap gejala dan sifat sakit yang
dialami
Klien akan segera mencari pertolongan jika gejala
tersebut dapat mengganggu rutinitas kegiatan sehari-hari.
Misal: Tukang Kayu yang
menderitas sakit punggung, jika ia merasa hal tersebut bisa membahayakan dan
mengancam kehidupannya maka ia akan segera mencari bantuan.
Akan tetapi persepsi seperti itu dapat pula
mempunyai akibat yang sebaliknya. Bisa saja orang yang takut mengalami sakit
yang serius, akan bereaksi dengan cara menyangkalnya dan tidak mau mencari
bantuan.
b.
Asal atau Jenis penyakit
Pada penyakit akut dimana gejala relatif singkat
dan berat serta mungkin mengganggu fungsi pada seluruh dimensi yang ada, Maka
klien bisanya akan segera mencari pertolongan dan mematuhi program terapi yang
diberikan.
Sedangkan pada penyakit kronik biasany
berlangsung lama (>6 bulan) sehingga jelas dapat mengganggu fungsi diseluruh
dimensi yang ada. Jika penyakit kronik itu tidak dapat disembuhkan dan terapi
yang diberikan hanya menghilangkan sebagian gejala yang ada, maka klien mungkin tidak akan termotivasi
untuk memenuhi rencana terapi yang ada.
- Faktor Eksternal
a. Gejala yang Dapat
Dilihat
Gajala yang terlihat dari suatu penyakit dapat mempengaruhi Citra Tubuh dan
Perilaku Sakit.
Misalnya: orang yang mengalami bibir kering dan pecah-pecah mungkin akan
lebih cepat mencari pertolongan dari pada orang dengan serak tenggorokan,
karena mungkin komentar orang lain terhadap gejala bibir pecah-pecah yang
dialaminya.
b. Kelompok Sosial
Kelompok sosial klien akan membantu mengenali ancaman penyakit, atau justru
meyangkal potensi terjadinya suatu penyakit.
Misalnya: Ada 2 orang wanita, sebut saja Ny. A dan Ny.B berusia 35 tahun
yang berasal dari dua kelompok sosial yang berbeda telah menemukan adanya
benjolan pada Payudaranya saat melakukan SADARI. Kemudian mereka
mendisukusikannya dengan temannya masing-masing. Teman Ny. A mungkin akan
mendorong mencari pengobatan untuk
menentukan apakah perlu dibiopsi atau tidak; sedangkan teman Ny. B mungkin akan
mengatakan itu hanyalah benjolan biasa dan tidak perlu diperiksakan ke dokter.
c. Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya dan etik mengajarkan sesorang bagaimana menjadi
sehat, mengenal penyakit, dan menjadi sakit. Dengan demikian perawat perlu
memahami latar belakang budaya yang
dimiliki klien.
d. Ekonomi
Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya ia akan lebih cepat
tanggap terhadap gejala penyakit yang ia rasakan. Sehingga ia akan segera
mencari pertolongan ketika merasa ada gangguan pada kesehatannya.
e. Kemudahan Akses
Terhadap Sistem Pelayanan
Dekatnya jarak klien dengan RS, klinik atau tempat pelayanan medis lain
sering mempengaruhi kecepatan mereka dalam memasuki sistem pelayanan kesehatan.
Demikian pula beberapa klien enggan mencari pelayanan yang kompleks dan
besar dan mereka lebih suka untuk
mengunjungi Puskesmas yang tidak membutuhkan prosedur yang rumit.
f.
Dukungan Sosial
Dukungan sosial disini meliputi beberapa institusi atau perkumpulan yang
bersifat peningkatan kesehatan. Di institusi tersebut dapat dilakukan berbagai
kegiatan, seperti seminar kesehatan, pendidikan dan pelatihan kesehatan,
latihan (aerobik, senam POCO-POCO dll).
Juga menyediakan fasilitas olehraga seperti, kolam renang, lapangan Bola
Basket, Lapangan Sepak Bola, dll.
Tahap-tahap Perilaku Sakit
- Tahap I (Mengalami Gejala)
- Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)
- Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)
- Tahap IV (Peran Klien Dependen)
- Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)
Tidak
semua klien melewati tahapan yang ada, dan tidak setiap klien melewatinya
dengan kecepatan atau dengan sikap yang sama.
Pemahaman terhadap tahapan perilaku sakit akan membantu perawat dalam mengidentifikasi perubahan-perubahan
perilaku sakit klien dan bersama-sama klien membuat rencana perawatan yang
efektif
Dampak Sakit
- Terhadap Perilaku dan Emosi Klien
Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda tergantung pada asal
penyakit, reaksi orang lain terhadap penyakit yang dideritanya, dan lain-lain.
Penyakit dengan jangka waktu yang singkat dan tidak mengancam kehidupannya
akan menimbulkan sedikit perubahan perilaku dalam fungsi klien dan keluarga.
Misalnya seorang Ayah yang mengalami demam, mungkin akan mengalami penurunan
tenaga atau kesabaran untuk menghabiskan waktunya dalam kegiatan keluarga dan
mungkin akan menjadi mudah marah, dan lebih memilih menyendiri.
Sedangkan penyakit berat, apalagi jika mengancam kehidupannya.dapat
menimbulkan perubahan emosi dan perilaku yang lebih luas, seperti ansietas,
syok, penolakan, marah, dan menarikd diri.
Perawat berperan dalam mengembangkan koping klien dan keluarga terhadap
stress, karena stressor sendiri tidak bisa dihilangkan.
- Terhadap Peran Keluarga
Setiap orang memiliki peran dalam kehidupannya, seperti pencari nafkah,
pengambil keputusan, seorang profesional, atau sebagai orang tua. Saat
mengalami penyakit, peran-peran klien tersebut dapat mengalami perubahan.
Perubahan tersebut mungkin tidak terlihat dan berlangsung singkat atau
terlihat secara drastis dan berlangsung lama. Individu / keluarga lebih mudah
beradaftasi dengan perubahan yang berlangsung singkat dan tidak terlihat.
Perubahan jangka pendek à klien tidak mengalami
tahap penyesuaian yang berkepanjangan. Akan tetapi pada perubahan jangka
penjang à klien memerlukan proses penyesuaian yang sama dengan ’Tahap Berduka’.
Peran perawat adalah melibatkan keluarga dalam pembuatan rencana
keperawatan.
- Terhadap Citra Tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang terhadap penampilan
fisiknya. Beberapa penyakit dapat menimbulkan perubahan dalam penampilan
fisiknya, dan klien/keluarga akan bereaksi dengan cara yang berbeda-beda
terhadap perubahan tersebut.
Reaksi klien/keluarga etrhadap perubahan gambaran tubuh itu tergantung
pada:
♣
Jenis Perubahan (mis: kehilangan tangan, alat indera
tertentu, atau organ tertentu)
♣
Kapasitas adaptasi
♣
Kecepatan perubahan
♣
Dukungan yang tersedia.
- Terhadap Konsep Diri
Konsep Diri adalah citra mental seseorang terhadap dirinya sendiri,
mencakup bagaimana mereka melihat kekuatan dan kelemahannya pada seluruh aspek
kepribadiannya.
Konsep diri tidak hanya bergantung pada gambaran tubuh dan peran yang
dimilikinya tetapi juga bergantung pada aspek psikologis dan spiritual diri.
Perubahan konsep diri akibat sakit mungkin bersifat kompleks dan kurang
bisa terobservasi dibandingkan perubahan peran.
Konsep diri berperan penting dalam hubungan seseorang dengan anggota
keluarganya yang lain. Klien yang mengalami perubahan konsep diri karena sakitnya mungkin tidak mampu lagi
memenuhi harapan keluarganya, yang
akhirnya menimbulkan ketegangan dan konflik. Akibatnya anggiota keluarga akan
merubah interaksi mereka dengan klien.
Misal: Klien tidak lagi terlibat
dalam proses pengambilan keputusan dikeluarga atau tidak akan merasa
mampu memberi dukungan emosi pada anggota keluarganya yang lain atau kepada
teman-temannya à klien akan merasa kehilangan fungsi sosialnya.
Perawat seharusnya mampu mengobservasi perubahan konsep diri klien, dengan
mengembangkan rencana perawatan yann membantu mereka menyesuaikan diri dengan
akibat dan kondisi yang dialami klien.
- Terhadap Dinamika Keluarga
Dinamika Keluarga meruapakan proses dimana keluarga melakukan fungsi,
mengambil keputusan, memberi dukungan kepada anggota keluarganya, dan melakukan
koping terhadap perubahan dan tantangan hidup sehari-hari.
Misal: jika salah satu orang tua sakit maka kegiatan dan pengambilan
keputusan akan tertunda sampai mereka sembuh.
Jika penyakitnya berkepanjangan, seringkali keluarga harus membuat pola
fungsi yang baru sehingga bisa menimbulkan stress emosional.
Misal: anak kecil akan mengalami rasa kehilangan yang besar jika salah satu
orang tuanya tidak mampu memberikan kasih sayang dan rasa aman pada mereka.
Atau jika anaknya sudah dewasa maka seringkali ia harus menggantikan peran
mereka sebagai mereka termasuk kalau perlu sebagai pencari nafkah.
Komentar
Posting Komentar