Pengaruh Penerapan Bedside Teaching Terhadap Perubahan Perilaku Profesional Dalam Pemasangan Infus Pada Mahasiswa
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan tujuan Sistem Pendidikan Nasional yaitu
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya
yaitu manusia yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
dan kebangsaan (Dirjendikti, 1999). Pendidikan program D-III Keperawaratan adalah suatu pendidikan yang
bertujuan menghasilkan perawat praktisi pemula (Ahli Madya Keperawatan) yang mana
dikembangkan dengan landasan keilmuan
yang cukup dan landasan keprofesian yang kokoh (Ariani, 2001). Memiliki
landasan profesi yang kokoh,bermakna menumbuhkan dan membina sikap, tingkah
laku,dan kemampuan profesional keperawatan untuk melakukan praktik keperawatan
ilmiah, tahap profesi atau pengalaman belajar klinik merupakan upaya untuk
memberikan kesempatan pada peserta didik menerapkan ilmu yang di pelajari di
kelas kekeadaan nyata guna mendapatkan pengalaman nyata untuk mencapai
kemampuan profesional (Intelektual, Teknikal, dan Interpersonal) (Nursalam,
2002). Namun selama ini proses pembelajaran klinik di Poltekkes (Jurusan
Keperawatan) Ternate masih kurang memuaskan. Hal ini diduga disebabkan
kemampuan Clinikal instruktur (CI) yang masih rendah, lingkungan tempat praktek
kurang memadai, dan metode bimbingan klinik yang diterapkan tidak jelas. Keadaan
tersebut berpengaruh terhadap perilaku profesional mahasiswa baik kognitif, psikomotor,
dan afektif masih rendah, terutama dalam tindakan keterampilan pemasangan infus
secara prosedural. Namun pengaruh pembelajaran klinik dengan Bedside Teaching terhadap perubahan
perilaku profesional pada Mahasiswa Jurursan Keperawatan Poltekkes Ternate
masih belum jelas.
Menurut Tutuko B (2004), bahwa kualitas lulusan pendidikan kesehatan
(Akademi keperawatan) sekarang ini masih di pertanyakan. Di Poltekkes (Jurursan
Keperawatan) Soetomo pada umumnya selama ini dalam proses pembelajaran klinik
masih jauh dari harapan, sehingga perilaku profesional mahasiswa masih rendah
dan dampak pada pelayanan yang diberikan kepada pasien masih kurang memuaskan.
Keadaan tersebut mengakaibatkan kualitas pelayanan kesehatan juga kurang
memuskan, karena pada prinsipnya dalam pembelajaran klinik dan lapangan
diharapkan dapat terbentuk kemampuan akademik dan profesional serta mampu
mengembangkan keterampilan dalam memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan
profesional dan dapat bersosialisasi dengan peran profesionalnya (Nursalam,
2002).
Terkait dengan hal tersebut dalam pembelajaran klinik dipengaruhi
oleh banyak hal antara lain (1) penetapan Rumah Sakit atau Puskesmas profesional
utama dan Rumah Sakit lain sebagai
jaringan praktek, (2) Adanya komunitas keperawatan yang mampu menciptakan iklim
yang kondusif dan adanya model peran (3) Tujuan instruksional yang jelas dan
menentukan kompetensi yang akan yang dicapai dan (4) Menetapkan sistem evaluasi
(Nursalam, 2002). Oleh sebab itu diharapkan dalam kegiatan pengalaman belajar
klinik keperawatan terencana sesuai dengan fungsi dan kompetensi yang
ditetapkan oleh lembaga atau institusi pendidikan dapat dikuasai oleh peserta
didik dengan optimal. ( Yusuf A , 2001). Metode pembelajaran merupakan salah
satu metode mendidik peserta didik di klinik yang memungkinkan pendidik memilih
dan menerapkan cara mendidik yang sesuai dengan objektif (tujuan), dan
karakteristik individual peserta didik berdasarkan kerangka konsep pembelajaran
(Nursalam, 2002). Maka pemilihan dan penerapan metode bimbingan klinik dalam
kondisi tertentu dengan “Metode Bedside
Teaching sangat dimungkinkan.
Bimbingan klinik merupakan bagian dari pendidikan tinggi keperawatan
yang berupaya membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan pengetahuan,
sikap, dan keterampilan (Dalyono, 1997). Untuk membantu meningkatkan kemampuan/perilaku
profesional tersebut pada mahasiswa, mempersiapkan/meminimalisir hal-hal yang
menjadi pengaruh dalam pembelajaran klinik dan memilih atau menerapkan metode
pembelajaran klink dengan Bedside
Teaching penting untuk dilakukan dengan harapan peserta didik dapat
manguasai keterampilan secara prosedural, tumbuh sikap profesional melalui pengamatan
langsung
Keadaan permasalahan tersebut sehingga peneliti tertarik untuk
meneliti dengan judul “Pengaruh Penerapan Bedside
Teaching Terhadap Perubahan Perilaku Profesional dalam Pemasangan Infus
Pada Mahasiswa Program Reguler Jurusan Keperawatan Poltekkes Ternate”.
1.2 Rumusan
Masalah
1) Bagaimanakah perubahan perilaku profesional (Kognitif,
psikomotor dan afektif) mahasiswa dalam pemasangan infus dengan penerapan
metode BedsideTeaching
2) Apakah
pengaruh penerapan Bedside Teaching
terhadap Kemampuan kognitif dalam pemasangan infus pada mahasiswa Jurusan Keperawatan
Poltekkes Ternate ?
3) Apakah
pengaruh penerapan Bedside Teaching
Terhadap Kemampuan Afektif dalam
pemasangan infus pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes ternate ?
4) Apakah
pengaruh penerapan Bedside Teaching
terhadap kemampuan Psikomotor dalam
pemasangan infus pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes Ternate ?
1.3.
Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan
Umum
Mengidentifikasi pengaruh penerapan Bedside Teachig terhadap perubahan perilaku profesional (Kognitif, Psikomotor
dan Afektif) dalam pemasangan infus pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes Ternate.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mempelajari perubahan perilaku professional (Kognitif, Psikomotor,
dan Afektif) dalam pemasangan infus pada mahasiswa Jurusan Keperawatan
Poltekkes Ternate dengan penerapan Bedside
Teaching
2) .Mempelajari pengaruh penerapan Bedside Teaching terhadap kemampuan kognitif dalam pemasangan infus
pada mahasiswa Jurusan Keperawatan
Poltekkes Ternate.
3) Mempelajari pengaruh penerapan Bedside
Teaching terhadap kemampuan afektif dalam pemasangan infus pada mahasiswa Jurusan
Keperawatan Poltekkes Ternate.
4) Mempelajari pengaruh penerapan Bedside Teaching terhadap kemampuan
psikomotor dalam pemasangan infus pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes
Ternate.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Teoritis
1. Bermanfaat sebagai dari
perkembangan IPTEK keperawatan tentang penerapan model bimbingan klinik Bed side Teaching terrhadap perubahan
kemampuan atau perilaku professional (kognitif,
psikomotor, dan afektif) dalam pemasangan infus
pada mahasiswa.
2. Sebagai sumber informasi atau pedoman dalam proses pendidikan dan
pengajaran klinik tentang penerapan metode Bed
side Teaching terhadap perubahan kemampuan atau perilaku professional (kognitif
afektif dan psikomotor) dalam pemasangan infus pada mahasiswa.
3. Dan penelitian ini dapat memberi gambaran atau informasi bagi
peneliti tentang pengaruh penerapan Bed
side Teaching terhadap kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor dalam
pemasangan infus pada mahasiswa.
1.4.2. Praktis
1. Sedangkan bagi praktisi, Metode Bed side Teaching dapat digunakan sebagai salah satu teknik
bimbingan klinik yang efektif dalam membantu meningkatkan kemampuan kognitif, psikomotor
dan afektif pada mahasiswa.
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
Pada bab ini akan di uraikan tentang Konsep pembelajaran klink (Bedside Teaching), Konsep pemasangan
infus, Konsep perilaku Profesonal (Kemampuan Kognitif Psikomotor danKonsep sikap/Afektif).
2.1
Konsep Pengalaman Belajar Klinik (PBK)
2.1.1
Pengertian
Pembelajaran klinik merupakan suatu proses sosialisasi
mahasiswa/peserta didik dalam mandapatkan pengalaman nyata untuk mancapai
kemampuan keterampilan profesional; kognitif, psikomotor, dan interpersonal
dalam melaksanakan asuhan keparawatan pada klien. Berdasarkan kurikulum pendidikan
tinggi keperawatan (D-III Keperawatan) dengan tujuan menyiapkan mahasiswa/peserta
didik melalui penyesuaian profesional dalam bentuk pengalaman berlajar
klinik secara komprehensif sehingga
memiliki kemampuan profesional.
Pengalaman Belajar Klinik (PBK) adalah suatu proses tranformasi mutu
untuk menjadi seorang perawat profesional yang memberi kesempatan beradaptasi
pada peranannya sehingga perawat profesional dalam melaksanakan praktek
keperawatan profesional ditatanan nyata pada klien klinik/komunitas untuk; Menerapkan pendekatan proses keperawatan,
menampilkan sikap/perilaku profesional, menerapkan keterampilan profesional .
(Nursalam, 2002)
Menurut John Sponcel (2004), menyatakan bahwa pengajaran klinik yang
berpusat pada pengajaran dan pembelajaran yang didalamnya langsung berinteraksi
dengan pasien dan peralatan merupakan inti dari pendidikan, dengan berusaha
memberikan bimbingan klinik sebanyak mungkin, maka jadwal mahasiswa/peserta
didik agar sedini mungkin dapat kontrak dengan pasien.
2.1.2
Tujuan Pengalaman Belajar Klinik (PBK)
Dalam melaksanakan pengalaman belajar klinik (PBK) keperawatan
mengacuh pada tujuan pembelajaran diantaranya: (1) Memberikan kesempatan kepada
mahasiswa/peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
dipelajari di kelas dari berbagai disiplin ilmu secara terintegrasi dalam
situasi perawatan klien yang nyata, (2) Mengembangkan potensi mahasisw/peserta
didik; untuk menampilkan perilaku keperawatan yang bermutu dalam situasi nyata
di tempat pelayanan kesehatan, (3) Memberi kesempatan pengalaman belajar kepada
mahasiswa/peserta didik bekerja secara tim kesehatan dalam membantu proses
kesembuhan klien, (4) memberikan pengalaman awal dan memperkenalkan pada
mahasiswa/peserta didik dunia kerja keperawatan untuk menjadi seorang perawat
profesional (Nursalam, 2002)
2.1.3
Metode Pengajaran
Metode pengajaran merupakan salah satu metode mendidik mahasiswa /
peserta didik di klinik yang memungkinkan pendidik memilih dan menerapkan cara
mendidik yang sesuai dengan objek (tujuan) dan karakteristik individu dan
mahasiswa / peserta didik berdasarkan konsep pembelajaran
Gambar : 2.1. Diagram Metode Pengajaran Klinik (Nursalam. 2002)
2.1.4
Jenis Metoda Pengajaran Klinik
Jenis metoda pengajaran klinik menurut beberapa sumber misalnya
menurut Nursalam (2002) membagi jenis metoda pengajaran klinik terdiri dari
sebagai berikut :
1. Eksperensial
Dalam metoda ini dimana seorang pembimbing berupaya untuk membantu
menganalisa situasi klinik melalui pengindentifikasian masalah, menentukan
tindakan yang akan diambil, mengimplementasikan pengtahuan kedalam masalah
klinik, menekankan hubungan antara pengalaman belajar lalu dan pengalaman
terhadap masalah lalu, dan berasal dari teori kognitif yang dipadukan dengan
teori proses informasi dan teori pengambilan keputusan.
2. Proses Insiden
Pada metoda ini seorang pembimbing diharapkan
dapat menerapkan bimbingan yaitu dengan :
1)
Membantu peserta didik
mengembangkan keterampilan relatif beradasarkan kejadian klinik.
2)
Insiden berasal dari pengalaman
praktek aktual atau dikembangkan secara hipotetikal.
3)
Bisa dalam bentuk insiden
terkait klien, staf atau tatanan klinik.
3. Konferensi
Yaitu dimana jenis metode ini dirancang
melalui diskusi kelompok, dengan tujuan untuk meningkatkan pembelajaran
penyelesaian masalah dalam kelompok melalui analisis kritikal, pemilihan
alternatif pemecahan masalah, dan pendekatan kreatif. Memberi kesempatan
mengemukakan pendapatan dalam menyelesaikan masalah, menerima umpan balik dari
kelompok atau pengajar dll. Jenis metode pengajaran ini dibagi atas ; Pre dan
Post konferensi, Peer review, Issue, dan Multidisplin
4. Observasi
Metode observasi adalah suatu jenis metode
yang bertujuan untuk mendapatkan pengalaman / contoh nyata, dan mengembangkan
perilaku baru untuk pembelajaran masa mendatang. Dan jenis metode pengajaran
ini meliputi : Observasi lapangan, fieldrip, demontrasi, dan ronde keperawatan.
Sebagai misal ; Ronde keperawatan ialah suatu metode pembelajaran klinik yang
memungkinkan peserta didik mentransfer dan mengaplikasikan pengetahuan teoritis
dalam praktik keperawatan langsung.
2.1.5 Metode Bedside Teaching
1. Pengertian
Menurut Nursalam (2002), Bebside Teaching adalah merupakan metode
mengajar pada mahasiswa / peserta didik, dilakukan disamping tempat tidur klien
meliputi mempelajari kondisi klien dan asuhan keperawatan yang dibutuhkan oleh klien
2. Manfaat
Dalam penerapan metode pembelajaran
klinik ini, manfaat yang dapat diamabil adalah agar pembimbing klinik dapat
mengajarkan dan mendidik mahasiswa / peserta didik untuk menguasai keterampilan
prosedur, menumbuhkan sikap profesional, mempelajari perkembangan biologis /
fisik, melakukan komunikasi melalui pengamatan langsung
3. Prinsip
Dengan pembelajaran klinik metode Beside Teaching hal prinsip yang
perlu diperhatikan adalah ;
1.
Sikap fisik maupun psikologis
dari pembimbing klinik peserta didik dan klien.
2.
Jumlah peserta didik dibatasi
(ideal 5 - 6 orang).
3.
Diskusi pada awal dan paska
demonstrasi didepan dilakukan seminimal mungkin.
4.
Lanjutkan dengan demonstrasi.
5.
Kaji pemahaman mahasiswa /
peserta didik sesegera mungkin terhadap apa yang didapatnya saat itu.
6.
Kegiatan didemonstrasikan
adalah sesuatu yang belum pernah diperoleh mahasiswa / peserta didik
sebelumnya, atau apabila mahasiswa / peserta didik menghadapi kesulitan
menerapkan.
4. Persiapan
Memberikan kasus yang sesuai yang dapat memberi kesempatan kepada
mahasiswa / peserta didik untuk menerapkan keterampilan teknik prosedural dan
interprosedural :
1. Koordinasi dengan staf di klinik agar tidak mengganggu jalannya
rutinitas perawatan klien.
2. Melengkapi
peralatan / fasilitas yang akan digunakan.
2.2 Konsep Pemasangan Infus
2.2.1 Pengertian
Pemasangan jarum infus adalah sebuah
keterampilan yang merupakan dasar untuk terapi IV (Intra Vena) dan dapat
dipelajari dan dapat dikembangkan melalui praktik yang sering, dimana jarum
dimasukkan ke dalam vena (umumnya ditangan dan lengan). Kemudian jarum tersebut
dihubungkan dengan selang dan basal cairan yang berfungsi sehingga jalan untuk
memberikan obat atau cairan (Pedoman Terapi Infus, 1998).
2.2.2
Tujuan Pemasangan Infus
1. Untuk
memberikan obat-obatan melalui infus.
Yaitu pemberian antibiotik / cairan obat
lain yang pembagiannya harus melalui vena.
2.
Untuk terapi cairan dan elektrolit
Yaitu memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit terdiri
dari cairan dengan bermacam-macam jenis kation dan anion, sebagai contoh adalah
larutan 0,9% dan RL
3.
Untuk pemberian nutrisi
parenteral
Cairan yang digunakan mengandung karbohidrat dan air,
misalnya Dextrose5% dan ½ salin.
4.
Untuk mengganti bagian darah
yang hilang
Yaitu cairan expander yang diberikan sesuai dengan
banyaknya darah yang hilang contoh : dextran, plasma, human serum albumin
(Kozier : 1999).
2.2.3 Indikasi Pemasngan Infus
1. Pasien
dengan dehidrasi
2. Pasien
sebelum tranfusi darah
3. Pasien
pra dan pasca bedah, sesuai dengan program pengobatan
4. Pasien
tidak bisa maka dan minum melalui mulut
5. Pasien yang memerlukan pengobatan yang
pemberiannya harus dengan cairan infus
2.2.4 Unsur-unsur Penting Prosedural Pemasangan
Infus
1. Persiapan Alat
Pada persiapan ini yang perlu dipersiapan
adalah alat-alat yang meliputi :
1)
Seperangkat infus set steril
2)
Cairan yang diperlukan
3)
Spuit, jarum dan kain kasa
steril dalam tempatnya
4)
Kapas Alkohol dalam tempatnya
5)
Plester
6)
Gunting verban
7)
Pembalut atau verban
8)
Bengkok (neirbekken)
9)
Standar infus lengkap dengan
gantungan botol (kolf)
10)
Perlak kecil dan pengalasnya
11)
Spalk dalam keadaan siap pakai
bila, perlu
2. Persiapan Pasien.
Memeriksa catatan
pasien terhadap alergi, pesanan dokter, dan hasil laboratorium yang harus
dilakukan sebelum pendekatan kepada pasien,
1)
Perlengkapan yang dipilih
sesuai dengan tujuan, lama terapi, usia pasien dan kondisi pasien
2)
Pasien diberi penjelasan
tenteng hal-hal yang akan dilakukan, jika keadaan memungkinkan serta
3)
Pakaian pasien pada daerah yang
akan dipasang infus, harus dibuka yang sebelumnya telah dikomunikasikan dengan
pasien.
3.
Pemilihan Vena
Sesuai aturan yang
umum vena-vena distal pada tangan dan lengan harus digunakan terlebih dahulu.
Vena yang umumnya digunakan untuk terapi IV (Intra Vena), adalah vena besilika,
sefalika dan masa karpal, dan vena yang ideal adalah vena yang belum digunakan
dan agak lurus.
Pedoman pemilihan vena
1)
Gunakan vena-vena distal
terlebih dahulu.
2)
Gunakan lengan pasien yang
tidak dominan jika mungkin.
3)
Pilih vena-vena diatas area
fleksi.
4)
Pilih vena yang cukup besar
untuk memungkinkan aliran darah yang adekuat, ke dalam kateter.
5)
Palpasi vena untuk menentukan
kondisinya, vena yang lunak penuh dan tidak tersumbat.
6)
Pastikan bahwa lokasi yang
tidak akan mengganggu aktivitas pasien sehari-hari.
7)
Pastikan lokasi yang tidak akan
mempengaruhi perbedaan / prosedur-prosedur yang direncanakan.
4.
Pemilihan Alat Pungsi Vena
Memilih kateter / alat
fungsi vena adalah penting untuk keberhasilan terapi, dan pertimbangan dalam
memilih kateter (abuket) sesuai dengan ukuran dan kondisi vena yang dipilih.
Viskositas cairan yang akan diinfuskan, usia pasien dan lamanya terapi yang
diperkirakan. Perbedaan macam-macam kateter adalah sebagai berikut:
1)
Keterbatasan dinding kateter,
efeknya; kecepatan aliran.
2)
Ketajaman jarum. efeknya;
sedikit gangguan pada teknis penusukan.
3)
Sifat kelunakan kateter, efek;
masa pemakaian kateter.
4)
Desain yang aman untuk mencegah
cedera tertusuk jarum dan kontak dengan darah, efek; keamanan dalam pekerjaan.
5)
Jumlah lumen yang tersedia
untuk infus cairan yang simultan yang kemungkinan cairan yang tidak kompatibel
dapat diberikan pada waktu yang sama, melalui jalur perifer yang sama, bila
kateter lumen ganda yang dipilih.
Disamping bentuk atau macm-macam
kateter yang perlu kita pilih akan tetapi memilih jenis ukuran kateter yang
disesuaikan dengan kondisi pasien adalah sebagai beikut :
1)
Nor 16 bedah mayor / trauma
2)
Nor 18 darah dan produk darah, pemberian obat-obat kental
3)
Nor 20 digunakan pada kebanyakan pasien.
4)
Nor 22 digunakan pada kebanyakan pasien dan trauma anak-anak dan orang
tua.
5)
Nor 24 pasien pediatrik dan neonatal
2.2.5 Teknik Pemasangan Infus
Pada teknik pemasangan infus yang umumnya sering dilakukan sebagai
pedoman adalah sebagai berikut :
1. Pilih vena yang paling
baik.
2
Bersihkan kulit dengan gerakan
melingkar dari pusat ke luar daya larutan antiseptik (alkohol 70%) dan biarkan
kering.
3
Pasang turnikal yang lunak 4 sampai 6 hari diatas + 4 pemasangan.
4
Pakai sarung tangan.
5
Fiksasi vena, letakkan ibu jari
anda diatas vena untuk mencegah.
6
Tusuk vena, pegang tabung
bening kateter, buka pusat;
a. Rendahkan jarum sampai hampir sejajar dengan
kulit.
b. Dorong kateter ke dalam vena kira-kira ¼ inci
sampai dengan ½ inchi sebelum melepaskan stylet, lepaskan pegangan kulit,
pegang stylet dan dorong kateter.
7. Lepaskan turnikat dan
tarik stylet.
8)
Pasang ujung selang infus /
tutup infeksi intramiten
9)
Pasang kateter IV (Intra Vena)
dan selang
10)
Pasang balutan steril
11)
Beri label pada tempat
pemasangan
2.2.6 Prinsip Atau Yang Diperhatikan Selama
Pemasangan
Hal-hal yang perlu diperhatikan selama
pemasangan jarum infus oleh seoerang perawat adalah sebagai berikut :
1.
Kelancaran cairan dan jumlah
tetesan harus tepat, sesuai program pengobatan
2.
Bila terjadi haematoma, bengkak
dan lain-lain pada tempat pemasangan jarum, maka infus harus dihentikan dan
dipindahkan pemasangannya kebagian tubuh yang lain.
3.
Perhatikan reaksi pasien selama
15 menit pertama. Bila timbul reaksi alergi (misalnya menggigil, urtikaria atau
shock), maka infus harus segera diperlambat tetesannya jika perlu dihentikan,
kemudian segera laporkan kepada penanggung jawab ruangan atau dokter yang
bersangkutan.
4.
Buatlah catatan pemberian infus
secara terinci yang meliputi ;
a. Tanggal,
hari, dan jam dimulai pemasangan infus
b. Macam, dan jumlah cairan atau obat, serta
jumlah tetesan per menit
c. Kadaan umum pasien (Tensi, nadi, dan
lain-lain)
d. Reaksi pasien yang timbul akibat pemberian
cairan atau obat
e. Nama dokter dan petugas pelaksana atau yang
bertanggung jawab
5. Siapkan cairan atau obat untuk pemberian
selanjutnya
6. Perhatikan teknik septik dan aseptik.
2.2.7 Komplikasi Akibat Pemasangan Infus
Komplikasi akibat dari pemasangan
infus adalah sesuatu hal yang perlu diperhatikan dikarenakan komplikasi akibat
pemasangan infus cendrung terjadi, maka untuk memberi rasa aman dan nyaman
selama pemasangan infus kemungkinan komplikasi yang perlu diantisipasi adalah
sebagai berikut :
1. Infiltrasi : masuknya
cairan ke jaringan subkutan
Penyebab : - Jarum keluar dari vena dan masuk ke dalam
jaringan subkutan
- Dinding vena tidak dapat memblokir cairan
2. Plebitis : inflamasi vena
Penyebab : - Trauma mekanik dari jarum infus
- Trauma kimia dan cairan
- Sepsis
karena kontaminasi
3. Thrombus : pembekuan darah
Penyebab : adanya darah
yang membeku pada trauma jaringan akibat jarum.
4. Shock : reaksi tubuh
terhadap substansi yang dimasukkan dalam sirkulasi
Penyebab : cairan infus
masuk ke sirkulasi terlalu cepat.
5. Kelebihan cairan : keadaan yang disebabkan
oleh terlalu besar jumlah yang diinfuskan.
6. Embolus : benda asing /
udara didalam sistem sirkulasi
Akibat : adanya darah yang membasuh dan /
masuknya udara melalui selang infus.
7. Iritan : suatu agen yang dapat menimbulkan
nyeri-nyeri vena pada tempat penusukan / sepanjang vena, atau tanpa reaksi
inflamasi
2.3 Konsep Kemampuan Kognitif
Kemampuan kognitif adalah kemampuan jiwa
dalam proses berpikir untuk membuat hubungan tanggapan dan penilaian (Reilly
D.E& Obermann M.H, 1985). Sumadi (1996) mengemukakan bahwa Pengetahuan
adalah kemampuan seseorang untuk mengingat fakta, simbol, proses dan teori.
Sedang menurut Notoadmojo (2002)
mengdefinisikan pengetahuan adalah hasil tahu yang terjadi setelah manusia
mengadakan pengindraan terhadap objek tertentu. Menururt Keraf (2001)
Pengetahuan merupakan keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan
pemahaman yang dimiliki manusia. Dan beliau
kemudian membagi pengetahuan
menurut: (1) Polanya, (2) Macamnya, yang mana dapat uraikan sebagai berikut :
1. Pola Pengetahuan
1) Tahu bahwa yaitu
pengetahuan tentang informasi tertentu; tahu bahwa sesuatu terjadi.
2) Tahu bagaimana yaitu dimana
pengetahuan jenis ini menyangkut bagaimana melakukan sesuatu, berkaitan dengan
keterampilan atau lebih tepat keahlihan dan kemahiran teknis.
3) Tahu akan, ialah merupakan pengetahuan yang sangat spesifik
menyangkut pengalaman atau pengenalan pribadi secara langsung dengan objeknya.
4) Tahu mengapa / bagaimana ialah jenis pengetahuan yang lebih mendalam, sebab tidak hanya puas
dengan informasi yang ada, dan jenis ini merupakan pengetahuan paling tinggi
dan mendalam serta sekaligus dapat dikatakan pengetahuan ilmiah.
Pengetahuan
pada dasarnya untuk mengetahui sesuatu yang digerakan oleh tiga perasaan,
diantaranya; Perasaan terkejut, ingin tahu, dan kagum. Seseorang terkejut
terhadap sesuatu kejadian sehingga muncul keingintahuan dalam dirinya, apabila
keingintahuan ditekuni atau dicoba dan tercapai dengan baik maka perasaan orang
tersebut kagum adanya karena berhasil.
2. Macam Pengetahuan
Pengetahuan dilihata dari macamnya dapat
dibagi menjadi 4 (empat) yang meliputi :
1)
Sekedar tahu. Pada tingkat ini
hubungan pengetahuan tersebut mula-mula hanya sekedar tahu, namun sampai
mengetahui bagaimana membantu seseorang.
2)
Betul-betul tahu. Ialah
sesuatau yang diketahui betul-betul nyata harus didukung dengan fakta dan tidak
hanya berdasarkan informasi
3)
Tahu bagaimana dan tahu akan,
yaitu sesorang mengetahui sesuatu secara pribadi semakin tahu bagaiman ia
bertindak.
4)
Tahu mengapa, pada tingkat ini
suadah akumulasi dari hubungan ketiga pengetahuan tersebut diatas yang mana
mempunyai pengalaman pribadi untuk mengatakan hal itu benar.
Pengetahuan merupakan dominan yang
sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, sehingga perilaku yang di
sadari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak
disadari pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri dapat diadopsi melalui beberapa
tahap.
Notoadmodjo (1993) mengemukakan bahwa
sebelum mengadopsi perilaku yang baru dalam diri seseorang akan terjadi proses
yang berurutan sebagai berikut :
(1) Awareness yaitu orang yang
menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus, (2) Interest yaitu subjek mulai tertarik terhadap stimulus
/ objek tersebut, disini sikap subyek sudah mulai timbul, (3) Evaluation pada tahap ini subyek mulai
menimbang-nimbang baik buruknya stimulus terhadap dirinya, (4) Trial, pada tingkat ini subyek mulai
melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus, (5) Adoption yaitu subyek telah berperilaku
sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan siakapnya terhadap stimulus
2.3.3 Tingkat
Pengetahuan
Tingkat pengetahuan seseorang dapat
dibagi dalam domain kognitif, senada dengan pengetahuan dalam domain kognitif
yang dikutip, Notoatmodjo (1993), mempunyai 6 tingkatan yaitu :
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai keadaan dimana
mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalamanya
yaitu mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik terhadap bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah, kita kerja mengukurnya antara; menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan dan menyatakan.
2) Memahami
(Comperhension)
Memahami diartikan sebagai suatu
kemampuan menjelaskan secara benar obyek yang diketahui, dan dapat
menginterpretasikan materi yang benar.
3) Aplikasi
(Applictsion)
Aplikasi diartikan sebagai suatu
kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau
kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan penggunaan hukum-hukum,
rumus-rumus, metode, prinsip dalam konteks / situasi yang lain.
4) Analisis
(Analysis)
Kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu subyek kedalam suatu komponen, tetapi masih didalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis (Sintesis)
Sintesis menunjuk suatu kemampuan
untuk meletakkan atau menghubungkan bagian didalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru atau suatu kemampuan untuk menyusun formasi yang baru dari formulasi
yang ada.
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan
kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
obyek.
Penilaian ini berdasarkan kriteria yang
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada. Pengukuran pengetahuan
dapat dilakukan dengan wawancara atau angket tentang materi yang akan diukur
dari subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin dicapai
dapat kita ketahui atau diukur berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan
sendiri atau menggunakan kriteria yang ada dan disesuaikan dengan
tingkat–tingkat tersebut diatas.
2.3.4 Faktor
Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Slameto (1991) mengemukakan
faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang diantaranya :
1) Faktor
Internal
Faktor
internal meliputi : (1) Kesehatan, sehat berarti dalam keadaan baik segenap
badan beserta bagiannya bebas dari penyakit. Proses belajar seseoarang akan
terganggu, (2) Intelegensi, dimana sangat besar pengaruhnya terhadap
pengetahuan, orang yang mempunyai tingkat intelegensi tinggi akan lebih
berhasil daripada mempunyai intelegensi yang rendah (3) Perhatian, yaitu
kreatifitas jiwa yang dipertinggi, seperti jiwa itupun semata-mata tertuju pada
suatu obyek, (4) Minat, adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengingat berbagai kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan
terus-menerus yang disertai dengan rasa senang, (5) Bakat, ialah kemampuan untuk
belajar, kemampuan ini baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata
sesudah belajar atau berlatih.
2) Faktor
Eksternal
Faktor
eksternal yang berpengaruh diantaranya ; (1) Faktor keluraga, dimana sangat
menentukan dalam pendidikan, karena keluarga adalah lembaga pendidikan yang
pertama dan utama, (2) Metode pembelajaran, sebab merupakan suatu proses yang
harus dilalui didalam mendapatkan pengetahuan. Untuk menghindari pelaksanaan
cara belajar yang salah perlu suatu pembinaan, dengan belajar yang tepat dapat
efektif pula hasil belajar sesorang,
(3) Faktor Masyarakat, merupakan
faktor eksternal yang berpengaruh pada pengetahuan seseorang, pengaruh ini
terjadi karena keberadaannya dalam masyarakat. Bentuk kegiatan dalam masyarakat
akan berhubungan dengan media massa,
teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.
Selain pendapat diatas, beberapa faktor yang ikut mempengaruhi
pengetahuan diantaranya ; (1)
pendidikan, didalam tindakan setiap individu selalu dipengaruhi oleh
pengetahuan, sering kali faktor pendidikan merupakan syarat paling pokok untuk
fungsi-fungsi tertentu, akan tetapi pada pekerjaan lain menuntut pendidikan
yang lebih tinggi, sehingga pendidikan harus sesuai dengan jabatannya, (2)
Pengalaman, melalui pengalaman seseorang mengembangkan sikap mengenai kemampuan
manajerial, rangcangan kerja, tinjauan prestasi dan lain sebagainya, (3)
Motivasi, adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan untuk berbuat,
hal ini memberikan gambaran bahwa walaupun mempunyai pengetahuan yang tinggi
tetapi tidak ada motivasi terhadap sesuatu kegiatan maka hasilnya belum tentu
lebih baik, (4) Usia, dimana ada kecenderungan orang yang umurnya lebih tua,
memiliki lebih banyak pengetahuan dibandingkan yang lebih muda, yang mana
pengetahuan ini didapat dari pengalaman terhadap suatu obyek atau materi yang
mempengaruhi tindakan atau kinerjanya. Sedangkan umur yang kebih muda
pengalaman ini seluruhnya diperoleh.
Keraf (2002), berpendapat bahwa sepanjang kehidupan manusia terdapat
lima faktor
yang mempengaruhi seseorang dalam memperoleh pengetahuan, faktor-faktor
tersebut diantaranya; pendidikan, pengalaman, usia, kesehatan fisik terutama
panca indera, melalui media masa atau buku.
2.3.5 Fungsi Kemampuan Kognitif Atau Pengetahuan
Fungsi
intake berhubungan dengan proses mengetahui dan membutuhkan konsep prosesnya
melalui penginderaan, pengamatan, tanggapan, ingatan, dan berpikir juga
kemampuan memahami, menganalisa, mensintesis dan mengevaluasi dengan
menggunakan simbol imajinasi dan penalaran untuk pemecahan masalah. (Reilly D.E
& Obermann M.H, 2002)
2.3.6
Metode Pembelajaran Kognitif Atau Pengetahuan
Terdapat berbagai variasi dalam metode pengajaran klinik yang tepat
untuk pengajaran dalam kemampuan kognitif, seperti dengan strategi pemecahan
masalah. Dan tahapan yang panjang dalam
metode pembelajaran yang tepat di sesuaikan dengan perkembangan kemepuan
kognitif. Melalui praktek, seorang pengajar dapat memahami konsep dan
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan membuat keputusan untuk latihan.(Reilly
D.E & Obermann
M.H,2002)
2.4
Kemampuan Psikomotor
2.4.1 Pengertian
Kemampuan psikomotor (Perseptual physikomotor
skill) adalah serangkaian gerak otot untuk menyelesaikan tugas dengan berhasil
(Oemar H, 2000). Gerakan-gerakan otot dikoordinasikan oleh persepsi kita
terhadap peristiwa-peristiwa disekitar kita. Pengendalian persepsi menunjukkan
kepada pengorganisasian dan penafsiran informasi yang masuk melalui alat indera.”mater”
menunjukan pada gerakan-gerakan otot. Singer, (1975) dikutip oleh Reilly D.E
& Obermann M.H, (2002), aktivitas
yang berorietasi terutama pada pergerakan
pada dasarnya lebih menekankan respon fisik yang sehingga kegiatan
tersebut dikenal dengan psikomotor.
Keterampilan psikomotor dalam keperawatan
merupakam rangkaian tindakan yang kompleks dan bertujuan atas dasar prinsip;
keterampilan psikomotor memerlukan keterampilan kognitif pada saat membuat
suatu keputusan dan pertimbangan yang berkaitan penggunaan dan efeknya yang
diinginkan. Akan tetapi keterampilan psikomotor tidak termasuk keterampilan
kognitif. Keterampilan ini melakukan keterampilan yang membentuk suatu kenerja
dari tindakan yang spesifik (Reilly D.E & Obermann M.H, 2002).
Sehingga dalam pengajaran psikomotor,
keterampilan dalam praktek diakui sebagai fenomena terintegrasi yang terdiri
dari pembelajaran kognitif, psikomotor,dan afektif, namun yang ditekankan dalam
pengajaran ini adalah kinerja keterampilan yang membutuhkan strategi pengajaran,
pembelajaran dan evaluasi tertentu. Komponen
pergerakan menjadi fokus pengajaran, proses kognitif, perspektif, dan
proses afektif lainnya yang juga berinteraksi sehingga keseluruhan tindakan
dapat menyatu, bermakna, dan berhasil (Reilly D.E & Obermann M.H, 2002).
2.4.2 Metode Pembelajaran Psikomotor
Metode
pembelajaran keterampilan psikomotor adalah berupa demontrasi, dimana peranan
dari individu dalam proses pengaturan dan menerapkan film tunggal atau
vidiotape sangat diperlukan. Komponen visual dapat membantu pelajar untuk
menilai secara umum dari pola tindakan dan mendukung semua proses pembelajaran.
Tujuan dari pelaksanaan adalah untuk membantu menggali kemampuan diri dalam
melaksanakan tindakan dan memperbaiki tindakan apabila terjadi gangguan atau
kerugian dalam pelaksanaanya.(Reilly D.E & Oermamn M.H, 2002).
2.4.3 Karakteristik Kemampuan Psikomotor
Menurut Oemar H, (2000),Kemampuan psikomotor /
keterampilan memiliki tiga karakteristik yaitu menunjukkan;
1) Rangkaian (O chain), respon motorik, melibatkan
koordinasi gerakan tangan dan mata serta mengorganisasikan rangkaian respon
menjadi pola-pola respon yang kompleks.
2) Koordinasi gerakan, Perilaku terampil
merupakan koordinasi antara gerak
tangan, dan mata. Oleh karena itu keterampilan disebut juga
keterampilan psikomotor yang
menitikberatkan koordinasi persepsi (mata) dan tindakan motorik (tangan).
3) Pola Respon atau perilaku terampil merupakan
organisasi rangkaian S – R menjadi pola respon yang kompleks dan tersusun
menjadi pola respon yang luas. Dapat disimpulkan bahwa keterampilan adalah
keseluruhan respon.
2.4.4
Tahapan belajar Psikomotor
Dimyati & Moldjiono (1999), menyatakan
bahwa tahapan belejar keterampilan, terutama keterampilan komplek dilakukan
melaui tiga (3) tahap; Kognitif, Fiksasi, dan Otonom. Tahap-tahap ini tumpang
tindih, tidak merupakan unit-unit yang terpisah satu sama lain dan berlangsung
dalam proses yang berkesenambungan. Dari ketiga tahap tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut : (1) Tahap Kognitif, Pada tahap ini mahasiswa / peserta didik
berusaha mengintelektualkan keterampilan yang akan dilakukan, (2) Tahap
Fiksasi, Pada tahap ini pola-pola perilaku yang betul, dilatih sampai tidak
lagi terjadi kekeliruhan. (3) Tahap Otonom, Dan pada tahap ini terdapat
peningkatan kecepatan melakukan keterampilan-keterampilan yang berdaya guna
untuk memperbaiki kecermatan dimana tidak terjadi lagi kekeliruhan.
Belajar kemampuan-kemampuan psikomotor, dan
belajar kemampuan gerak dapat dimulai dengan kepekaan dan memilah-milah sampai
dengan kreatifitas pada gerak baru. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan
psikomotor mencakup kemampuan fisik dan mental. Dimyati & Moldjiono (1999),
2.4.5
Taksonomi Atau Tingkat Psikomotorik
Rielly D.E
dan Obermann M.H (2002), mengemukakan bahwa tingkat kemampuan psikomotor
mencakup lima
tingkatan kinerja, tetapi tidak mengidentifikasi komponen yan berbeda dari
setiap tingkatnya, tinggkat tersebut meliputi :
1) Imitasi, Pada tingkat ini keterampilan
dipelajari setelah keterampilan tersebut selesai diperagakan, baik secara
langsung oleh pengajaran atau melalui pengamatan terhadap pemutaran film,
videotip, atau rangkaian slide. Keterampilan ini tidak memiliki koordinasi atau
kendali neuromuskular sehingga secara umum bentuknya kasar tidak sempurna
(misalnya; impuls, pengulangan yang jelas)
2) Manipulasi, ditingkat ini peserta didik
mengikuti sebuah petunjuk yang tercantum pada lembar prosedur, belajar
mengikuti intruksi, menampilkan tindakan yang dipilih dan memperbaiki kinerja
melalui praktik yang diperlukan.
3) Ketepatan, Pada ini telah mencapai suatu
tingkat kemahiran dan dapat dilakukan tanpa sesuatu pengarahan atau contoh,
yang ditandai dengan keakuratan, misalnya ketepatan untuk mengurangi kesalahan.
4) Artikulasi, yaitu tindakan yang
dikoordinasikan dalam suatu rangkaian aktivitas yang logis, yang menunjukkan
keharmonisan dan konsistensi di anatara aktivitas tersebut. Dimensi waktu
ditambahkan disini kerana kecepatan dan waktu harus ada didalam harapan yang
realitik.
5) Naturalisasi, yaitu keterampilan yang
memperlihatkan suatu tingkat kecakapan yang tinggi dan telah menjadi respon
yang otomatis pada petunjuk situasional yang tepat. Keterampilan ini dikatakan
telah efisien dan telah memenuhi kriteria kompetensi yang profesional.
2.4.6
Pembelajaran Psikomotor dalam Praktek Klinik / Lapangan
Kemampuan psikomotor merupakan satu kesatuan
dari praktek keperawatan dan paling mendasar partisipasi perawat dalam
memberikan pelayanan atau perawatan. Hal ini dapat dilihat dalam proses
keperawatan yaitu pada tahap pengkajian hingga implementasi. Keterampilan
psikomotor merupakan bagian terpenting dalam intervensi keperawatan. Kurangnya
kompetensi dalam memahami ini akan menjadi pokok permasalahan untuk pendekatan
keperawatan dan sering dapat memperparah kualitas pembelajaran sehingga mempengaruhi
pendidikan kesehatan itu sendiri.(Reilly
DE dan Obermann MH, 2002)
2.4.7
Konsep Pengembang Keterampilan Psikomotor Yang Sesuai
Keterampilan psikomotor dalam keperawatan
mempunyain bentuk praktek keperawatan yang memerlukan kemampuan dalam tindakan
keperawatan yang efektif sesuai stuasi dan membutuhkan koordinasi sistem
neuromuskuler. Keterampilan psikomotor dalam keperawatan adalah sangat berguna
menjadi prinsip tindakan yang dilakukan yang sesuai dengan tujuan dan harapan
yang diinginka. Pengajaran keterampilan psikomotor dapat diakui sebagai
keterampilan manakala terintegrasi secara komprehensif antara pengajaran
kognitif, psikomotor dan afektif. Pengajarannya diperlukan strategi yang
menekankan untuk pembelajaran, pengajaran, dan evaluasi.
Keterampilan merupakan konsep penting untuk
perubahan dan menunjukan kemampuan secara efisien dan efektif, yang mengarahkan
pada perihal kecepatan dan ketepatan tindakan gerakan otot atau tubuh yang
diperlukan. Terdapat klasifikasi dari keterampilan, misalnya;
1.
Keterampilan motorik halus
tugas perawat yang berorientasi pada koordinasi muskulo, keterampilan tersebut
meliputi injeksi, pengaturan posisi arteri, persiapan peralatan sebelum
pembedahan.
2.
Keterampilan manual ; tugas
gabungan dalam keperawatan dimana dilakuan berulang-ulang dan biasanya
melibatkan aktivitas tangan dan mata. Keterampilan tersebut meliputi
pemeriksaan fisik, personal higieni, palpasi pada daerah yang sakit.
3.
Keterampilan motorik kasar ;
tugas yang melibatkan perpindahan tubuh dan melibatkan otot tubuh secara luas.
Keterampilan tersebut meliputi : Resusitasi cardiopulmonal (CPR), gerakan atau
ambulasi, gerak mobilisasi (ROM), pengaturan posisi pasien (Reilly DE &
Obermann MH, 2002)
Singer (1975), dikutip oleh Rielly DE &
Obermann MH, (2002), menunjukkan bahwa sifat keterampilan seseorang meliputi :
1.
Pelaksanaan yang dilakukan
merupakan faktor yang muncul dari harapan yang konsisten dan memungkinkan
terjadinya perubahan pelaksanaan untuk masing-masing individu.
2.
Pelaksanaa yang tepat seiring
dengan ketepatan waktu dan tempat.
3.
Respon rangsangan merupakan
serangkaian perinta yang tepat untuk dilakukan.
4.
Pelaksanaan dilakukan dalam
batas waktu yang ditentukan.
5.
Harus ada kemampuan untuk
mengantisipasi kejadian secara tepat dan adanya waktu yang lebih untuk mewujudkannya.
6.
Pelaksanaan harus bervariasi
karena untuk mengantisipasi tidak adanya responsi dalam masyarakat.
7.
Kemampuan untuk menerima
informasi secara maksimal dari terbatasnya jumlah yang diindentifikasi harus
dikembangkan.(Reilly DE & Obermamn MH, 2002).
2.4.8 Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran
Psikomotor
Singer, Reilly dan Obermann (2002), bahwa berbagai pertimbangan pada respon
individu terhadap situasi pembelajaran klinik/praktik dan pada hasil akhir
pengalaman tersebut meliputi; pengajaran selama praktik, wawasan yang relatif
mudah, daya transfer pembelajaran keterampilan dalam penugasan langsun, dan
berbagai penyesuaian psikologis, fisiologis, intelektual dan emosional.
Disamping itu pula faktor kesiapan merupakan faktor yang penting untuk perkembangan
motorik peserta didik, karena kesiapan berkaitan dengan motivasi untuk belajar,
memfokuskan pikiran pada pengalaman, makna pembelajaran yang baru bagi tujuan
pribadi seseoarang, pengakuan terhadap kebutuhan pemeliharaan untuk
pembelajaran keahlihan, dan memahami tujuan yang akan dicapai. Motivasi yang
mana merupakan sebagai kekuatan positif untuk merespon tuntutan dari
pembelajaran keterampilan motorik yang baru.
2.5 Konsep sikap (Afektif)
2.5.1 Pengertian
Sikap yang terdapat pada diri
manusia memberi warna atau corak tingka laku atau perbuatan individu
yang bersangkutan. Sikap merupakan reaksi respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo S. 1997). Menurut
Bimo Walgito,(2001) sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang
mengenai objek atau situasi yang relatif ajek yang disertai adanya perasaan
tertentu, dan memeberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respon atau
berperilaku dalam cara tetentu yang dipilihnya. Sedangkan menurut Abu Ahmadi
(1999) sikap adalah kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negatif
terhadap suatu objek atau situasi secara konsisten.
2.5.2 Fungsi Sikap (Afektif)
Menurut Attkinson, RL, dkk, yang dikutip oleh Sunaryo (2004), dalam
buku Pengantar Psikologi jilid 2 edisi 11, sikap memiliki 5 (lima) fungsi
sebagai berikut:
1.
Fungsi Instrumental
Fungsi sikap ini berkaitan dengan alasan
praktis atau manfaat, dan menggambarkan keadaan keinginan. Bahwa untuk mencapai
suatu tujuan diperlukan sarana yang disebut sikap, Apabila sikap dapat membantu
individu mencapai tujuan, individu akan bersikap positif terhadap objek sikap
tersebut atau sebaliknya
2. Fungsi Penahanan Ego
sikap ini diambil individu dalam rangka
melindungi diri dari kecemasan atau ancaman harga diri.
3. Fungsi Nilai Ekspresi
sikap ini mengekspresikan nilai yang ada
dalam diri individu. Sistem nilai apa yang ada pada diri individu dapat dilihat
dari sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan terhadap nilai
tertentu.
4. Fungsi Pengetahuan
Sikap ini membantu individu untuk
memahami dunia yang membawa keteraturan terdapat bermacam – macam informasi
yang perlu diasimilasikan dalam kehidupan sehari –hari. Setiap individu
memiliki motif untuk ingin tahu, ingin mengerti, dan ingin banyak mendapat
pengalaman dan pengetahuan.
5. Fungsi Penyesuaian Sosial
Sikap ini membantu individu merasa
menjadi bagian dari masyarakat. Dalam hal ini, sikap yang diambil individu
tersebut akan dapat menyesuaikan dengan lingkungan.
2.5.3 Tingkatan sikap (Afektif)
Menurut Notoatmadjo S. (1999), sikap
memiliki empat (4) tingkat dari yang
terenda hingga yang tertinggi yaitu :
1. Menerima (receiving)
Pada tingkat ini individu ingin dan memperhatikan
rangsangan (stimulus) yang diberikan
2. Merespon (responding)
Pada tingkat ini, sikap individu dapat
memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang
diberikan
3. Menghargai (valuing)
Pada tingkat ini, sikap individu mengajak orang lain
untuk mengerjakan tau mendiskusikan suatu masalah
4. Bertanggung jawab (responsible)
Pada tingkat ini, sikap individu akan bertanggung jawab
dan siap menanggung segala resiko atas segala sesuatu yang tidak dipilihnya
2.5.4
Faktor Penentu (determinan)
Sikap / Afektif
Menurut Bimo Walgito (2001) ada 4 (empat) hal
penting yang menjadi determinan sikap individu, yaitu :
1. Faktor Fisiologis
Faktor yang penting adalah umur dan kesehatan yang menentukan
sikap individu. Misalnya ; orang muda umumnya bersikap kurang perhitungan
dengan akal dibandingkan orang tua yang penuh kehati – hatian.
2. Faktor Pengalaman langsung
terhadap objek sikap
Pengalaman langsung yang dialami
individu terhadap objek sikap, berpegaruh terhadap sikap individu terhadap
objek sikap tersebut, misalnya seorang pasien yang pernah dirawat dengan sangat
baik oleh seorang perawat,akan menaruh sikap positif terhadap perawat tersebut.
3. Faktor Kerangka Acuan
Kerangka acuan yang tidak sesuai dengan
objek sikap, akan menimbulkan sikap yang negatif terhadap objek sikap tersebut,
misalnya individu menyakini bahwa hubungan seksual dengan pacar sebelum nikah
adalah tidak sesuai dengan norma masyarakat dan agama. Oleh karena itu,
individu tersebut tidak akan melakukan hal tersebut sebelum melaksanakan
perkawinan.
4. Faktor Komunikasi Sosial
Informasi yang diterima individu akan dapat menyebabkan perubahan
sikap pada diri individu tersebut, misalnya PNS
mendengar informasi dari TV bahwa mulai bulan depan gaji akan naik 10 % maka
sikap PNS terhadap pemerintah
positif.
2.5.5 Ciri – ciri Sikap (Afektif)
Ciri – ciri sikap yang dikemukakan oleh
berbagai ahli (Sunaryo,2004) pada intinya ciri sikap adalah sebagai berikut :
1.
Siakp tidak dibawah sejak
lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman dan latihan sepanjang
perkembangan indibidu dalam hubugan dengan objek.
2.
Sikap dapat berubah – ubah
dalam situasi yang memenuhi syarat untuk itu sehingga dapat dipelajari
3.
Sikap tidak berdiri sendiri,
tetapi selalu behubungan dengan objek sikap
4.
Sikap dapat tertuju pada satu
objek ataupun dapat tertuju pada sekumpulan / banyak objek
5.
Sikap dapat berlangsung lama
atau sebentar
6.
Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi sehingga membedakan
dengan pengetahuan.
2.5.6 Faktor Yang
Mempengaruhi Pembentukan dan Perubahan Sikap
Pada manusia
sebagai makhluk sosial, pembentukan sikap tidak lepas dari pengaruh interaksi
manusia satu dengan yang lain (eksterna), disamping itu juga sebagai makhluk
individual apa yang datang dari dalam dirinya (internal), juga mempengaruhi
pembentukan sikap, sebagai berikut :
1. Faktor internal
faktor ini berasal dari dalam diri
individu. Dalam hal ini individu mengelolah, dan memilih segala sesuatu yang
datang dari luar, menentukan mana yang diterima dan mana yang tidak ditrima.
Oleh karena itu , faktor indvidu merupakan faktor yang menentukan pembentukan
sikap. Faktor ini meliputi motif dan sikap yang bekerja dalam diri individu pada
saat , serta yang mengarahkan minat daan
perhatian (faktor psikologis), juga perasaan hati, lapar dan haus (faktor
fisiologis).
2. Faktor eksternal
Faktor ini berasal dari luar
individu,berupa stimulus untuk membentuk dan mengubah sikap. Stimulus tersebut
dapat bersifat langsung , misalnya individu dengan individu, individu dengan
kelompok. Dapat juga secara langsung melalui perantara, seperti ; alat
komunikasi dan media masa baik elektronik maupun nonelektronik.
Sedangkan menurut Sarlito Wirawan Sarwono
(2000), ada beberapa cara untuk membentuk atau mengubah sikap individu, yaitu :
1. Adopsi
Adopsi adalah suatu cara pembentukan dan
perubahan sikap melalui kejadian yang terjadi berulang dan terus - menerus
sehingga lama kelamahan secara bertahap hal tersebut akan diserap oleh
individu, dan akan mempengaruhi pembentukan serta perubahan terhadap sikap
individu.
2. Deferensiasi
Deferensiasi adalah suatu cara pembentukan
dan perubahan sikap karena sudah dimilkinya pengetahuan, pengalaman,
intelegensi, dan bertambahnya umur. Oleh karena itu hal – hal yang tadinya
dianggap sejenis sekarang dipandang tersendiri dan lepas dari jenisnya sehingga
membentuk sikap tersendiri.
3. Integrasi
Integrasi adalah suatu cara pembentukan
dan perubahan sikap yang terjadi secara tahap demi tahap, diawali dari macam –
macam pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan objek sikap tertentu
sehingga pada akhirnya akan terbentuk sikap terhadap objek tersebut.
4. Trauma
Trauma adalah suatu cara pembentukan dan
perubahan sikap melalui suatu kejadian secara tiba- tiba dan mengejutkan
sehingga meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri individu tersebut.
Kejadian tersebut akan membentuk dan mengubah sikap individu terhadap kejadian
sejenis.
5. Generalisasi
Generalisasi adalah suatu cara pembentukan
dan perubahan sikap karena penglaman traumatik pada diri individu hal tertentu,
dapat menimbulkan sikap negatif terhadap
semua hal yang sejenis atau sebaliknya.
2.5.7 Sikap Yang Harus di Miliki Oleh Perawat
Dalam Merawat Pasien
Sikap yang harus
dimiliki oleh perawat dalam merawat pasien agar dapat memberikan pelayanan
keperawatan yang sesuai dengan harapan pasien, antara lain :
1. Sikap ramah terhadap
semua orang terutama pada pasien.
2. Sikap menaruh kasih sayang terhadap sesama,
terlebih bagi yang membutuhkan.
3. Sikap yang dapat memberikan rasa aman bagi
pasien, bukan menimbulkan rasa kecemasan, kegelisahan, dan takut.
4. Sikap menaruh perhatian terhadap kebutuhn
yang diperlukan oleh pasien.
5. Sikap yang dicirikan dengan suara lembut
dan murah senyu, sehingga paling tidak pasien yang sedang sakit akan merasa
senang, simpati, dan tidak menilai judes terhadap perawat.
6. Sikap yang dapat dipercaya karena dengan
percayaannyalah harga diri dan kepribadian orang dapat dinilai.
7. Sikap percaya diri, jangan minder. Oleh
karena itu, perlu banyak belajar, menambah dan meningkatkan pengetahuan serta
keterampilan keperawatan.
8. Sikap dapat menahan diri jangan sampai
menyalahkan, mengkritik, menyudutkan, dan mempermalukan pasien maupun keluarga
yang dapat menambah berat penyakitnya.
9. Memiliki sikap agar pasien tidak
ketergantungan pada perawat.
10. Sikap untuk menghindari ucapan yang dapat
menyinggung perasaan pasien.
11. Sikap penuh pengertian dan pengabdian
12. Sikap yang riang dan gembirah, tidak
cemberut di muka pasien.
13. Sikap
yang kooperatif atau mudah diajak kerja sama dengan pasien atau dengan tim
kesehatan lainnya.
14 Sikap
yang memungkinkan dapat membantu dalam mengatasi kesulitan pasien maupun
kelurganya.
15 Sikap
humoris sesuai situasi dan kondisi pasien, untuk sekedar menghibur pasien.
BAB.
3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1.
Kerangka Konseptual
![]() |
![]() |
Keterangan :
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Penelitan Penerapan Bed
Side TeachingTerhadap
Perubahan perilaku
Profesional Dalam Pemasangan Jarum Infus Pada Mahasiswa Prodi Keperawatan Poltekkes
Ternate.
Pada prinsipnya bahwa perubahan perilaku profesional dan pelaksanaan
PBK terutama tentang pemilihan metode pengajaran klinik dapat di pengaruhi oleh
berbagai hal. Menurut Sunaryo (2004) bahwa proses belajar dipengaruhi oleh faktor
interna (Keadaan fisiologis ; kematangan fisik, keadaan indera, kesehatan.
Keadaan psikologis ; Motivasi, emosi, sikap, bakat, minat, intelegensi,
kreativitas) dan faktor eksterna (lingkungan tempat praktek / RS; sarana
prasarana, dan interaksi sosial, keterbatasan metode pengajaran, kemampuan CI, rasio
pengajar dan peserta didik, kurikulum). Menurut Nursalam (2002) metode bimbingan
klinik yang sesuai, meliputi; Eksperensial, Proses insiden, Konferensi, Ronde
keperawatan, dan terutama Bedside
Teaching. Menurut Sunaryo (2004), dalam mendidik pada dasarnya adalah
memberikan stimulus tertentu yang menimbulkan respon yang kita inginkan. Oleh
karena itu kondisi tersebut (penerapan Bedside
Teaching) dapat menimbulkan respon / Proses belajar, mulai dari persepsi,
belajar, keputusan dan timbul emosi / tindakan. Kemudian berpengaruh terhadpat
perubahan positif perilaku profesional yang meliputi Kognitif, Afektif, dan
psikomotor.
Maka dengan penarapan Bedside
Teaching dalam pemasangan infus, perubahan perilaku profesional juga dapat
dilihat baik dari segi kognitifnya, afekti dan psikomotornya dalam pemasngan
infus. Sehingga kegiatan seperti ini hendaknya dilakukan berulang – ulang agar
hubungan stimulus dan respon semakin kuat (Sunaryo, 2004).
3.2 Hipotesis penelitian
Hipotesis yang ditetapkan dalam
penelitian ini adalah :
H.1. Ada
pengaruh penerapan Bedside Teaching
terhadap kemampuan kognitif dalam pemasangan infus pada mahasiswa Jurusan Keperawatan
Poltekkes Ternate.
H.1. Ada pengaruh penerapan Bedside Teaching terhadap kemampuan afektif dalam pemasangan infus
pada mahasiswa Jurusan Keperawatan
Poltekkes Ternate.
H.1. Ada pengaruh penerapan Bedside Teaching terhadap kemampuan psikomotor dalam pemasangan
infus pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes Ternate.
BAB 4
METODE
PENELITIAN
Metode penelitian ini
adalah pemilihan dan perumusan masalah serta hipotesis untuk memberikan
gambaran mengenai metode dan teknik yang hendak digunakan dalam suatu
penelitian (Tjokronegoro,1999). Hal yang mencakup metode penelitian ini adalah
1). Desain penelitian, 2). Kerangka kerja, 3). Populasi dan sampel, 4).
Identifikasi variabel dan definisi operasional, 5). Instrumen penelitian, 6).
Lokasi dan waktu penelitian, 7). Prosedur pengambilan dan pengumpulan data, 8).
Analisa data, 9). Etika penelitian, dan 10).Keterbatasan.
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experiment dimana peneliti
melakukan intervensi metode Bed Side
Teaching terhadap dampak kemampuan kognitif dan psikomotor dalam pemasangan
infus kepada satu kelompok yang di ikuti dengan pengukuran / observasi pada
tujuan yang harapkan dari perlakuan / intervensi tersebut, yaitu peningkatan
kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor mahasiswa, kemudian hasil observasi
dikontrol atau dibandingkan dengan kelompok lain yang tidak mendapatkan
perlakuan tersebut
1 :
Observasi perilaku sebelum perlakuan pada kelompok perlakuan
:
Pelakuan Bedside Teaching tentang
pemasangan infuse
4.2 Kerangka
Kerja
|
Pre
|
|
|
![]() |
|||||
|
![]() |
|||
Hasil
Gambar : 4.2. Kerangka
Kerja Penelitian Pengaruh Penerapan Bed side
Teaching Terhadap Perubahan Perilaku
Profesional dalam pemasangan infus pada Mahasiswa Prodi Keperawatan Poltekkes
Ternate.
4.3 Populasi, Besar
Sampel dan Sampling
4.3.1 Populasi
Menurut
Soekidjo Notoatmodjo (2002), Populasi adalah kesluruhan objek penelitian atau
objek yang diteliti, sedangkan menurut Sastro Asmoro dan Sofyan Ismail (1995)
bahwa populasi adalah sekelompok subjek atau data dengan karakteristik
tertentu. Dalam penelitian ini populasinya adalah 42 Mahasiswa Program Reguler semester
V Jurusan Keperawatan Poltekkes Ternate,
4.3.2 Besar Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi
yang diteliti (Arikunto,2002 ), maka penentuan besar sampel dari jumlah
populasi tersebut dengan rumus perhitungan sebagai berikut :
(
P – 1 ) ( r – 1 ) > 12/15
( 2 – 1 ) ( 2 – 1 ) >
12/15
1 . 1
> 12/15
r > 12 – 1
r > 11
Keterangan :
P :
Kelompok perlakuan
r :
Replikasi = n
Jadi besar sample dari penelitian ini adalah 11
orang
Di samping itu pula dalam sampel juga harus
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang terdiri dari :
1. Kriteria Inklusi dari penelitian ini adalah :
1) Mahasiswa semester V program reguler Jurusan
Keperawatan yang bersedia untuk diteliti dengan
menandatangani surat
persetujuan untuk di teliti.
2) Mahasiswa yang belum pernah melakukan pemasangan
infus.
2. Kriteria Eksklusi adalah menghilangkan atau
mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai
hal (Nursalam, 2003). Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah:
1)
Mahasiswa
yang tidak bersedia untuk diteliti
2)
Mahasiswa
yang tidak termasuk dalam kelompok yang akan diteliti
3)
Mahasiswa
yang satu angkatan dengan mahasiswa yang akan diteliti
4)
Mahasiswa
yang telah atau sudah mampu melakukan teknik pemasangan jarum infus
4.3.3 Sampling
Sampling
adalah Proses seleksi porsi dari
populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam ,2003). Penelitian ini
menggunakan probaliti sampling terutama Systemstic
Sampling yaitu setiap subjek dalam populasi mempunyai kesempatan untuk
terpilih/dilaksanakan jika tersedia daftar subjek yang dibutuhkan (Nursalam,
2003). Jumlah populasi adalah N = 42 mahasiswa dan sample yang dipili = 11,
maka setiap kelipatan 4 akan menjadi sample, yaitu sempel pada nomor absen
mahasiswa 4, 8, 12 dan seterusnya.
4.4 Identifikasi Variabel dan Definisi
Operasional
4.4.1
Variabel Independen
Variabel
independen adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lainnya (Nursalam,
2003). Atau disebut variabel bebas, sebab mempengaruhi variabel dependen
(Notoatmodjo, 2002). Variabel independen dalam penelitian ini adalah Penerapan Bed sideTteaching
4.4.2
Variabel Dependen
Variabel
dependen adalah variabel tergantung akibat terpengaruh atau dipengaruhi oleh
variabel independen (Notoatmodjo, 2002). Variabel dependen dari penelitian ini
adalah Perubahan Perilaku Profesional (Kognitif,
Afektif dan Psikomotor) dalam Pemasangan Infus.
4.4.3
Definisi Operasional
|
VARIABEL
|
DEFENISI VARIABEL
|
PARAMETER |
ALAT UKUR
|
SKALA
|
SKORE
|
|
Variabel
Independen
-
PenerapanBeside Teaching
Variabel
Dependen :
-
Kemam puan Kognitif Afektif dan
Psikomotor dalam Pemasa ngan Infus
|
Bimbingan
klinik (tgg pemasangan jarum infuse) secara langsung disamping klien yang
dilakukan oleh perawat kepada mahasiswa dengan berpedoman pada satuan acara
pembelajaran
Kemampuan
mahasiswa dalam tindakan pemasangan infus baik secara kognitif maupun
psikomotor
|
~Menguasai
keterampilan procedural
~Tumbuh
sikap profesional
~Mempelajari
perkembangan biologis atau fisik
~Melakukan
komunikasi dengan pengamatan langsung.
Peningkatan
kemampuan.
Ø Kognitif :
1.Dapat menjelaskan konsep dan memahami tujuan pemasangan
infus
2.Memahami
unsur -unsur penting dari prosedural
pemasangan infus.
3.Menguraikan/menjelaskan
teknik pemasngan infus
4.Mamahami
komplikasi akibat pemasangan infus
Ø Psikomotor :
5.Melakukan
tindakan persiapan unsur-unsur penting pemasangan infus dengan tepat
6.Melakuan
tindakan teknik pemasangan infus dengan benar.
7.Merapikan
alat-alat setealah pemasangan infuse
Ø Afektif
1. Etis
~Tenang, sabar dan tabah
~Kontrak dengan klien dan keluarga
~Mengutarakan kata permohonan izin sebelum melakukan tindakan
~Mengucapkan terima kasih setelah selesai melakukan tindakan
2. Santun
~Senyum manis
~Menyapa dengan ramah dan sopan
~Bersikap ramah terhadap klien dan keluarga
3.Didikasi
~Cekatan, tidak ragu dalam melakukan tindakan
~Percaya diri dalam melakukan tindakan
|
Kuesioner
Observasi
Observasi
|
Ordinal
Ordinal
Ordinal
|
no;1,2,3,4
mampu = 3
kuramg mampu =
2
tidak mampu =
1
~ Baik :
76 – 100%
~ Cukup :
56 – 75%
~ Kurang :
< 55%
no; 5,6,7
mampu = 3
kurang mampu =
2
tidak mampu =
1
~ Baik
:
76 – 100%
~ Cukup
:
75 – 56%
~ Kurang :
< 55%
no; 5,6,7
mampu = 3
kurang mampu =
2
tidak mampu =
1
~
Baik :
76 – 100%
~
Cukup :
75 – 56%
~ Kurang :
< 55%
|
4.5 Instrumen
Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada
penelitian ini melakukan dan menggunakan lembar obsevasi dan kuesioner.
Pengukuran instrumen menggunakan skala ordinal untuk mengatahui perbedaan
tingkat kemampuan mahasiswa yang dilakukan Bed
side Teaching dengan yang tidak
dilakukan Bed side Teaching, Tingkat
kemampuan kognitif, Afektif dan psikomotor di kelompokkan , 76 – 100% : baik, 75
– 56% :cukup , < 55 % : kurang .
4.6 Lokasi
dan Waktu Penelitian
Penelitian ini rencana
dilaksanakan di RSU Hasan Boesoeiri di ruangan interna pria , di Ternate dan
rencana mulai bulan November 2004
4.7 Prosedur
Pengumpulan Data
Pada awal penelitian
(pre), menetapkan populasi, sample dan sampling penelitian. Selanjutnya pengumpulan
data, observasi perilaku pada kelompok perlakuan dan kontrol, kemudian memberi
perlakuan pada kelompk perlakuan, sebelumnya diberi penjelasan tentang Bedside
Teaching dalam pemasangan infus lalu didemonstrasikan langsung ke klien
oleh mahasiswa dengan didampingi oleh pembimbing. Pada tahap post, diobservasi kembali perilaku kelompok perlakuan dan
kontrol tentang kemampuan kognitif, afektif diberi kuesioner, dan psikomotor diobservasi
sesuai lembar observasi yang sudah ada. Bagi kelompok mahasiswa yang tidak diberi
perlakuan akan dilakukan setelah penelitian ini.
4.8 Analisis
Data
Hasil pengumpulan data
pada lembar observasi kemudian diberikan skore dan kode, lalu dilakukan
tabulasi pada skore dan kode tersebut dan diolah, meliputi identifikasi masalah
penelitian, pangkajian masalah penelitian dengan uji Mann-WhitneyTest.,
dengan tingkat kemaknaan = 0.05
|
2
|
Rumus :
|
2
|
Keterangan
:
n1 = Jumlah sampel 1
n2 = Jumlah sampel 2
U1 =
Jumlah peringkat 1
U2 =
Jumlah peringkat 2
R1 =
Jumlah rangking pada sampel 1
R2 =
Jumlah rangking pada sampel 2
4.9 Etik
Penelitian
Sebelum penelitian dilakukan
peneliti mendapat ijin dari ketua Program Studi Ilmu Keperawatan FK Unair , selanjutnya
mengajukan pemohonan ijin kepada Kepala Poltekkes Ternate dan Direktur RSU Hasan Boesoeiri Ternate.
Kemudian peneliti mendapat persetujuan dari pihak yang di teliti dan pasien sebagai
media penelitian, dengan tetap menekankan masalah etika yang meliputi :
1) Lembar Informed Consent (Lembar persetujuan)
Lembar Informed Consent diedarkan
sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan penjelasan maksud dan tujuan dari
penelitian, jika responden bersedia diteliti maka mereka diminta menandatangani
lembar persetujuan, jika tidak bersedia peneliti tidak akan memaksa dan tetap
menghormati haknya
2) Anonimity (Tanpa nama)
Dalam menjaga kerahasiaan responden,
Peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar obsevasi hanya diberikan
nomor urut atau konde tertentu.
3) Confidentiality
(Kerahasiaan)
Informasi yang
telah dikumpulkan dari responden tetap dijamin kerahasiaannya oleh peneliti,
4.10
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan
adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian . Keterbatasan dalam penelitian
ini kemungkinan adalah
1. Keterbatasan
tentang kesempatan objek pada saat penelitian akan dilaksanakn.
2. Keterbatasan
waktu terkait dengan objek yang
kemungkinan ada atau tidak adanya pasien yang akan dipasang infus serta
kelayakannya.
3. Kesediaan pasien
untuk sebagai media dalam bimbingan.
4. Kemungkinan
instrumen pengumpulan data yang di rancang peneliti tanpa melakukan uji coba , maka
validitas dan reabilitasnya masih perlu uji lagi.



mau liht lembar observasinya donk
BalasHapus