TURNOVER ( Berhenti Kerja )
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Keinginan Pindah Kerja (Intention Turnover)
Keinginan (intention)
adalah niat yang timbul pada individu untuk melakukan sesuatu. Sementara turnover
adalah berhentinya seseorang karyawan dari tempatnya bekerja secara sukarela
atau pindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain. Menurut Mobley
(1982) keinginan pindah kerja (intention turnover) adalah kecenderungan atau niat karyawan untuk berhenti bekerja
dari pekerjaannya secara sukarela atau pindah dari satu tempat kerja ke tempat
kerja yang lain menurut pilihannya sendiri.
Secara sederhana, turnover dalam bahasa indonesia diartikan sebagai tingkat
kepindahan. Yang mana menurut Sommers (1995) dalam Purwanti (2008) turnover merupakan angka yang
menggambarkan jumlah atau seberapa banyak karyawan yang keluar dalam suatu
organisasi atau meninggalkan organisasi tempat dimana ia bekerja, untuk pindah
ketempat lain atau berhenti bekerja.
B. Faktor
yang Mempengaruhi Intention Turnover
Ada banyak faktor yang menjadi penyebab individu
mempunyai keinginan untuk berpindah atau berhenti dari tempat kerja. Menurut
Tai, Barne dan Robbin (1998) dalam Adi dan Kristiani (2006), menjelaskan bahwa keinginan
pindah tenaga kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu karakteristik
individu seperti : umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, lamanya bekerja,
pelatihan kerja, profesionalisme, pengungkapan kebutuhan pribadi, jarak tempat
kerja, keinginan dan dinyatakan untuk tinggal di organisasi. Selain itu, faktor
lain dari segi organisasi kerja meliputi: kompensasi yang diberikan organisasi,
kesempatan promosi karier dan komitmen organisasi.
Menurut Mobley (1986) menyebutkan beberapa faktor
yang menjadi penyebab keinginan pindah kerja adalah sebagai berikut :
1.
Karakteristik
Individu
Organisasi adalah wadah yang memiliki tujuan yang
ditentukan secara bersama oleh orang-orang yang terlibat didalamnya. Untuk
mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan adanya interaksi yang
berkesinambungan dari unsur-unsur organisasi. Karakter individu yang
mempengaruhi keinginan pindah kerja antara lain :
a.
Umur
Berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan untuk
mengkaji hubungan antara umur dengan keinginan pindah kerja pegawai. Salah
satunya yang telah dilakukan oleh Maier (1971) mengemukakan bahwa pekerja muda
memiliki tingkat perpindahan yang lebih tinggi dari pada pekerja yang usianya
relatif tua. Kurangnya keinginan pindah kerja pada pegawai yang tua disebabkan
karena berbagai alasan seperti tanggung jawab keluarga, mobilitas yang menurun,
tidak mau repot pindah kerja dan memulai pekerjaan ditempat baru, dan
senioritas ditempat kerja belum tentu di dapatkan meskipun gaji serta fasilitas
yang lebih baik ditempat baru (Mosbley, 1986).
b.
Pendidikan
Menurut Tai, Barne dan Robbin (1998) dalam Adi dan
Kristiani (2006), keinginan pindah tenaga kesehatan dipengaruhi oleh
pendidikan. Secara umum perpindahan perawat di Indonesia cenderung didominasi
oleh pendidikan yang lebih tinggi
karena memiliki peluang yang lebih besar untuk memperoleh kesempatan untuk
bekerja di tempat yang dianggap lebih baik. Selain itu, jumlah perawat yang
memiliki tingkat pendidikan yang relatif lebih tinggi lebih sedikit, sehingga
memiliki tingkat persaingan yang lebih rendah dalam memperoleh pekerjaan.
c.
Status
Perkawinan
Mosbley (1982) mengemukakan bahwa dari segi
karakteristik individu, keinginan pindah kerja seseorang diakibatkan oleh
status perkawinan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ali dan Kristiani
(2006) mengemukakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara status perkawainan
dengan keinginan pindah kerja pada tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan yang
tidak kawin mempunyai peluang 2,4 kali lebih besar ingin pindah kerja
dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang berstatus kawin. Hal ini
mengindikasikan bahwa, seseorang yang telah menikah, memiliki tanggungjawab
dalam menghidupi keluarga sehingga membutuhkan pekerjaan.
2.
Lingkungan
Kerja
Lingkungan kerja dapat meliputi lingkungan fisik
maupun sosial. Lingkungan fisik meliputi keadaan suhu, cuaca, kontruksi,
bangunan, dan lokasi pekerjaan. Sedangkan lingkungan sosial meliputi sosial
budaya di lingkungan kerjanya, besar atau kecilnya beban kerja, kompensasi yang
diterima, hubungan kerja se-profesi, dan kualitas kehidupan kerjanya (MacCarthy,
dkk. 2002).
Menurut Thai, dkk (1998) beberapa karakteristik
pekerjaan yang dapat mempengaruhi keinginan pindah kerja adalah sebagai berikut
:
a.
Beban
Kerja
Hart & Staveland dalam Kasmarani (2012)
mengatakan bahwa beban kerja merupakan sesuatu yang
muncul dari interaksi antara tuntutan
tugas-tugas, lingkungan kerja dimana
digunakan sebagai tempat kerja,
keterampilan, perilaku dan persepsi
dari pekerja. Beban kerja dibedakan
menjadi 2 yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Beban kerja kuantitatif
timbul oleh karena tugas-tugas yang terlalu banyak ataupun sedikit yang
diberikan kepada tenaga kerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu,
sedangkan secara kualitatif yaitu jika orang tidak bisa mengerjakan suatu tugas
atau tugas yang diberikan tidak
menggunakan keterampilan dan potensi yang sesuai dari tenaga kerja.
Prihartini dalam Kasmarani (2012) menyebutkan
beban kerja perawat meliputi beban fisik
maupun beban mental. Beban fisik
perawat meliputi mengangkat pasien,
memandikan pasien, membantu pasien
ke kamar mandi, mendorong
peralatan kesehatan,
merapikan tempat tidur pasien,
mendorong brankart pasien. Sedangkan beban kerja mental yang
dialami perawat, diantaranya bekerja shift atau
bergiliran, mempersiapkan
rohani mental pasien
dan keluarga terutama bagi
yang akan melaksanakan operasi
atau dalam keadaan kritis,
bekerja dengan keterampilan khusus
dalam merawat pasien serta harus
menjalinkomunikasi dengan pasien. Beban kerja yang berlebih
pada perawat dapat memicu
timbulnya stres dan burnout.
Perawat yang mengalami stres dan
burnout memungkinkan mereka untuk
tidak dapat menampilkan performa
secara efektif dan efisien dikarenakan kemampuan fisik dan
kognitif mereka menjadi berkurang.
b.
Lama
Bekerja
Pada dasarnya, karyawan yang ingin pindah dari
tempat kerja disebabkan karena setelah lama bekerja, harapan-harapan yang
semula dari pekerjaan itu berbeda dengan kenyataan yang didapat. Hasil
penelitian Prihastuti (1992) dalam Purwanti (2008) menunjukan adanya korelasi
yang negatif antara masa kerja dengan kecenderungan turnover, yang berarti semakin lama masa kerja semakin rendah
kecenderungan perpindahan tenaga kerja. Perpindahan tenaga kerja ini lebih
banyak terjadi pada karyawan dengan masa kerja lebih singkat.
c.
Dukungan
Sosial
Dukungan sosial yang dimaksud adalah adanya hubungan
saling membantu untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Ganster (1986) dalam Istijanto (2005)
menjelaskan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh yang cukup besar dalam
mendukung aspek psikologis karyawan, sehingga mereka mampu bekerja dengan
tenang, konsentrasi, termotivasi, dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap
organisasinya. Sedangkan karyawan yang kurang mendapatkan dukungan sosial bisa
mengalami frustasi, stress dalam bekerja sehingga prestasi kerja menjadi buruk,
dan dampak lainnya tingginya absensi kerja, keinginan pindah kerja bahkan
sampai pada berhenti bekerja.
d.
Kompensasi
Dalam buku manajemen sumber daya manusia, insentif merupakan
bagian dari imbalan. Secara umum imbalan dibagi menjadi dua kategori, yaitu
imbalan langsung, yang terdiri dari komponen imbalan yang diterima secara
langsung, rutin atau periodik oleh pekerja/karyawan dan tidak langsung, terdiri
dari komponen imbalan yang diterima nanti atau bila terjadi sesuatu pada
karyawan. Pemberian imbalan atau kompensasi merupakan masalah yang sangat
penting, mengingat setiap pekerja dalam organisasi mempunyai pengharapan atas sesuatu
dari organisasi, sebagai penghargaan atas jerih payahnya selama bekerja.
Imbalan selain berbentuk uang dapat juga berupa fasilitas dan bentuk lain yang
dapat dinilai dengan uang (Ruky, 2001).
Masalah pengelolaan imbalan sangat penting bukan hanya merupakan
dorongan utama seseorang untuk menjadi karyawan/tenaga, tetapi juga karena
imbalan yang diberikan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap semangat
dan kegairahan kerja para personil organisasi (Sunarto, 2005).
Menurut Zeffane (1994) dalam Purwanti (2008), kompensasi merupakan
bagian yang sangat mempengaruhi terjadinya perpindahan tenaga kerja. Secara
teoritis faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya perpindahan tenaga kerja
dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor
eksternal, yakni pasar tenaga kerja, faktor institusi yakni kondisi ruang
kerja, upah (insentif), ketrampilan kerja, supervisi, karakteristik personal
dari karyawan seperti, inteligensi, sikap, masa lalu, jenis kelamin, minat,
umur, dan lama bekerja serta reaksi individu terhadap pekerjaannya.
Menurut
Berry (1993) dalam Purwanti (2008) mengatakan bahwa stressor kerja itu antara
lain :
1.
Beban kerja
Dengan beban kerja yang berat atau ringan bisa membuat seseorang merasa
kelelahan dalam bekerja sehingga akan membuat karyawan tersebut menjadi
stres/tertekan.
2.
Kondisi tempat kerja
Tempat kerja yang tidak nyaman akan membuat karyawan merasa tidak senang
dalam bekerja, akibatnya mereka akan bekerja semaunya.
3.
Hubungan antar rekan kerja (interpersonal)
Apabila ada permasalahan dengan rekan kerja, maka dalam kelompok kerja
tersebut suasana kerjanya tidak kondusif atau akan saling menghindar, sehingga
menyebabkan karyawan tersebut stress dalam bekerja.
4.
Peran manajerial yang kurang
Seorang manajer sangat dibutuhkan dalam mengelola karyawannya dalam
bekerja. Apabila manajer tidak mengerti tentang apa yang terjadi di lingkungan
karyawan, maka akan terjadi stres pada karyawan tersebut.
C. Dampak
Turnover
Purwanti (2008) menjelaskan turnover bisa berdampak positif dan negatif. Dampak positifnya yaitu:
adanya kecocokan kerja pada pribadi tertentu secara lebih baik, pembentukan
staf yang fleksibel, perubahan-perubahan yang lebih baik dalam masalah gaji dan
tunjangan, membuahkan pemikiran-pemikiran baru untuk organisasi. Sedangkan
dampak negatifnya antara lain: menimbulkan stres bagi perawat, mengurangi
konsensus dalam kelompok, mengakibatkan komunikasi kurang akurat.
Menurut Mobley (1986) dampak yng ditimbulkan dari turnover antara lain :
1.
Menimbulkan
stres bagi tenaga keperawatan yang tinggal karena harus beradaptasi dengan
pendatang baru.
2.
Mengurangi
konsensus dalam kelompok, meningkatkan konflik dan mengurangi kepuasan di
antara para tenaga keperawatan yang tinggal.
3.
Komunikasi
menjadi kurang akurat sehingga akan mempemgaruhi keterpaduan kelompok maupun performance
tenaga keperawatan.
4.
Akan
memicu tenaga keperawatan lain yang tinggal untuk berkeinginan keluar dari
organisasi tersebut.
D. Perhitungan
Turnover Rate di Rumah Sakit
Untuk mengukur angka turnover yang terjadi di rumah sakit, dapat menggunakan rumus
menurut Swansburg (1996) dalam Purwanti (2008) sebagai berikut;
Turnover
Rate = 
Keterangan
:
N =
jumlah tenaga yang keluar dalam 1 tahun
n awal =
jumlah tenaga pada awal tahun
n akhir =
jumlah tenaga pada akhir tahun
butuh daftar kepustakaannya biar saya bisa langsung ke buku atau jurnal asal
BalasHapusterima kasih banyak blog ini banyak membantu