Pengkajian Sistem Pernafasan
INI PENGkajian sistem Pernafasan students....enjoy itt....Undy
Gb. 3 Pigeon chest (pectus carinatum)
PENGKAJIAN SISTEM
PERNAFASAN
A. Observasi
Observasi penampilan umum klien sebelum memulai
pemeriksaan system pernafasan yang lebih rinci, temukan adanya tanda-tanda berikut ini : (Ali : 1994)
1.
Dispne
Perhatikan
apakah terdapat tanda-tanda dispne pada waktu istirahat, respirasi rate yang
abnormal, penggunaan otot- otot bantu
pernafasan, pola nafas abnormal : pernafasan Cheyne Stokes, pernafasan Kussmaul, hyperventilasi, pernafasan
biot, pernafasan apnestik.
2. Sianosis sentral, Amati adanya sianosis sentral
pada lidah atau mukosa
Sianosis
sentral dapat terjadi akibat penyakit
paru yang cukup berat untuk menimbulkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
3.
Batuk, amati bagaimana sifat batuknya,
apakah produktif atau tidak produktif
produktif.
4. Sputum
Obsevasi
jumlah dan jenis sputum (purulen, mukoid, atau mukopurulen). Volume sputum yang
besar dan purulen menunjukan kemungkinan bronkiektasis. Sekresi yang berbusa
dan merah muda dari trachea menunjukan adanya edema paru. Sputum yang berwarna
gelap dan berbau menunjukkan adanya abses paru. Hemoptisis menunjukan tanda
penyakit paru yang gawat.
5. Stridor
Stridor
adalah bunyi serak kasar atau bunyi mengi yang paling keras pada inspirasi. Hal ini dapat disebabkan oleh
adanya obstruksi laring, trahkea atau
jalan nafas yang besar oleh benda asing, tumor atau inflamasi. Ini adalah
tanda yang memerlukan perhatian yang mendesak.
6. Suara serak
Dengarkan
suara serak akibat adanya kelumpuhan saraf laringeus rekuren yang berkaitan
dengan karsinoma paru atau karsinoma laring. Tetapi penyebab paling sering
adalah laryngitis.
Dibawah ini merupakan
penuntun yang dipat digunakan saat melakukan observasi pada pengkajian system
pernafasan. (Matassarin
:1997)
1.
Bagaimana
frekwensi, kedalaman, dan pola nafas? Adakah penggunaan otot Bantu nafas?
2. Apakah ada indikasi sianosis
sentral yang memungkinkan adanya hipoksemia dan penyakit jantung?
3. Apakah
ada distensi vena jugularis?, apakah ada edema perifer atau tanda lain dari
kelainan jantung?
4. Apakah
palpasi dada menyebabkan nyeri?, bagaimana kesimetrisan pergerakan rongga dada?
5. Bagaimana
bunyi nafas di lapang paru, apakah bersih atau ada ronchi, wheezing atau
crackles?, apakah bunyi paru sama dikedua belah paru.
6. Periksa
sputum atau hemaptoe, jika ada berapa jumlahnya, warna dan kosistensinya dan
keasamaannya.
B. Interview
Interview dilakukan melalui pendekatan langsung maupun tidak langsung kepada klien
atau kedua-duanyanya. Tujuan pengumpulan data melalui interview adalah untuk mengumpulkan data
serta untuk mengetahui keterkaitannya. Adapun data yang perlu dikaji melalui
interview pada pengkajian system pernafasan lanjut adalah sebagai berikut:
1.
Biodata
Biodata yang perlu diketahui pada pengkajian system
pernafasan yaitu : nama, usia, jenis kelamin, pendidikan serta pekerjaan. Angka kejadian beberapa
gangguan system pernafasan sering berhubungan usia, jenis pekerjaan dan tingkat
pendidikan rendah.
2.
Riwayat
kesehatan :
a.
Keluhan
utama yang biasa ditemukan pada gangguan system pernafasan adalah sesak napas,
batuk, sputum produktif, haemoptisis, stridor dan nyeri dada. Stridor terjadi pada penyempitan
partial jalan nafas bagian atas.
Nyeri dada biasa terjadi pada kasus
pleuritis, nyeri tersebut dirasakan tajam dan menusuk, berlokasi pada satu sisi
dan nyeri meningkat dengan adanya pergerakan dada atau nafas dalam.
b.
Riwayat
kesehatan sekarang : merupakan penjelasan keluhan utama yang meliputi
Provocative/Palliative (P), Quality/Quantity (Q), Region/Radiation (R),
Scale/Severe (S), Time (T)
c.
Riwayat
kesehatan dahulu :
Pada riwayat
kesehatan terdahulu harus dikaji tentang riwayat penyakit, trauma, injury
saluran nafas atas dan dada seperti fraktur tulang iga, alergi, penggunaan
antibiotic dan obat-obatan untuk pengobatan paru seperti bronchodilator,
steroid, dan spesifik terapi seperti
pil, cairan atau inhalasi.
d.
Riwayat
kesehatan keluarga :
Pada
saat pengkajian riwayat kesehatan keluarga harus titanyakan tentang penyakit
keturunan atau penyakit yang menyebar diantara anggota keluarga seperti asma,
cystik fibrosis, emfisema, COPD, Ca. paru, TBC atau alergi. Buat daftar usia
dan penyebab kematian pada anggota keluarga.
e. Riwayat psikososial :
1)
Pekerjaan
: identifikasi adanya agen dari lingkungan yang mungkin berkontribusi terhadap
kondisi klien. Identifikasi lingkungan meliputi: lingkungan kerja atau hobi yang memungkinkan
terjadinya paparan dari debu, asbestos, berilium, silica, atau polutan yang
lain.
2)
Geografik
: perjalanan yang dilakukan baru-baru ini kedaerah-daerah dimana terdapat
penyakit infeksi pernafasan seperti
tuberkulosa (TBC), flu burung.
3)
Lingkungan
: Kondisi tempat tinggal yang buruk dan
lingkungan yang padat/sesak dapat meningkatkan kemungkinan terpapar
penyakit infeksi menular.
4)
Kebiasaan
sehari-hari : riwayat merokok baik jenis dan jumlahnya, minum alcohol yang dapat
menyebabkan depresi reflek batuk sehingga beresiko terjadinya aspirasi, adiksi
narkoba yang dapat menyebabkan over dosis dan gagal nafas. Penggunaan jarum
suntik secara bergantian pada pemakai narkoba akan menyebabkan pneumoni kranii
dan TBC.
5) Latihan/olahraga : Timbulnya
batuk selama olahraga
6)
Nutrisi
: penyakit pernafasan kronik dapat menurunkan kapasitas paru dan meningkatkan
kerja paru serta system kariovaskuler. Penambahan beban kerja ini dapat
meningkatkan kebutuhan kalori dan dapat
terjadi kehilangan berat badan. Pengaruh sekunder lainnya adalah anoreksia yang
disebabkan oleh obat-obatan, kelelahan.
f.
Review of system : tanyakan pada klien manivestasi lain yang berhubungan dengan
system pernafasan tentang adanya, flu,
pilek, batuk, produksi seputum, nyeri dada, kesulitan bernafas, keluar
cairan/sekret, oedem dependent, pembengkakan sinus, kelelahan, disorientasi,
perubahan kepribadian, tachycardia
a. Inspeksi :
1) Kepala dan leher :
Bau nafas, sputum, pursed lips breathing, cyanosis bibir,
adanya penggunaan otot-otot pernafasan seperti fleksi otot
sternocleidomastoides. Diaphoresis, pernafdasan cuping hidung, jejas pada
daerah leher, deviasi trachea, peningkatan JVP (oedema pareu dan tension
pneumothorak).
Gb.1 Inspeksi leher

2) Bentuk dan ukuran dada : ukuran
diameter anterior posterior dan tranversal, dapat ditemukan
a)
barel
chest pada klien emfisema yang ditandai dengan peningkatan diameter anterior
posterior
Gb.
2 Barrel
Chest

b)
funnel
chest : dada menjorok kedalam pada bagian bawah sternum pada klien.
c)
Pigeon
chest (pectus carinatum) : dada tampak menyerupai dada burung yang dapat
disebabkan oleh ricketsia, yang ditandai oleh ada depresi dua bagian yaitu
bagian bawah serta sternum yang
menonjol.
Catat
pergerakan dada yang dapat terlihat seperti adanya ketidak simetrisan pada
dinding dada yang biasa terjadi pada klien dengan trauma dada atau flail chest.
Lihat juga adanya jejas, tumor dan
hematome serta penggunaan otot-otot bantu pernafasan , retraksi interkoste serta
jenis pernafasan (perut atau dada).
Gb. 3 Pigeon chest (pectus carinatum)
3) Kaji jenis
pernafasan abnormal, meliputi:
a) cheynestoke
b) kussmaul
c) hyperventilasi
d) tachipnoe
e) dyspnoe
f)
hypoventilasi
(bradipnoe)
g) orthopnea
h) apnea
b. Palpasi
3) Trachea
Palpasi
adanya massa, crepitasi, penyipangan trachea dari garis tengah (deviasi
trachea)
4) Dada
Palpasi kesimetrisan pengembangan dada, tektur kulit,
pulsasi, krepitasi, empisema subcutis
massa, kehilangan kelenturan (tenderness),
nyeri, bengkak. Tactile fremmitus atau vocal fremmitus adalah fibrasi
pada dinding dada yang dihasilkan oleh vocalisasi. Peningkatan fremitus terjadi
karena adanya cairan atau massa seperti pada pneumonia, tumor dan di atas
effuse pleura sedangkan penurunan fremitus terjadi pada effuse pleura atau
atelektasis.
c. Perkusi
Perkusi
dilakukan untuk mengkaji adanya suara resonan, hyperesonance, dullness,
tymphani, dan flat.
Gb. 4 Perkusi Paru

d. Auskultasi
Dengarkan
adanya perubahan bunyi pernafasan berupa penurunan atau hilang. Disamping itu
kaji juga adanya bunyi wheezing, rales,
dan ronchi. Wheezing terjadi pada pasien dengan obstruksi jalan napas yang
disebabkan oleh benda asing atau tumor, PPOK. Rales dibagi menjadi 3 bagian
yaitu fine, medium, coarse.
Fine
rales terjadi pada fibrosis interstisial (asbestosis, edema intertisial (permulaan
edema paru), terendamnya anveolus (pneumonia), kehilangan volume paru
(atelektasis) dan permulaan fase CHF.
Medium
rales terjadi pada klien dengan edema pulmonal, inflamasi brohial (bronchitis
dan bronchiolitis).
Coarse rales terjadi pada klien yang bronchusnya
berisi cairan.
Ronchi
terjadi karena lewatnya udara melalui saluran yang berisi cairan, ronchi kadang
terdengar pada kondisi penyakit yang menyebabkan peningkatan produksi mucus
seperti pada pneumonia, bronchitis, brochoektasis. Ronchi
terdengar pada saat ekspirasi dan lebih jelas pada saat batuk.
Fleural
friction rub diakibatkan karena adanya inflamani pleura yang berhubungan dengan
penyakit infeksi pada pleura, seperti pada pleuritis, pneumonia atau kematian
jaringan pleura (infark). Bunyi ini disebabkan oleh pergesekan permukaan dua
bagian pleura (visceral dan parietal) yang mengalami inflamasi, juga dapat
didengar pada dinding dada yang mengalami fraktur.
Gb.
5 Auskultasi paru

Komentar
Posting Komentar