EKG ELEKTROKARDIOGRAM
Kalian ingin tahu tentang EKG..Nih saya punya bahannya walaupun Copas sih but Enjoy It...



Pada sadapan I,
diukur perbedaan potensial antara lengan kanan dan lengan kiri, pada sadapan II
dan III, berturut-turut antara lengan kanan – kaki kiri, dan lengan kiri – kaki
kiri. (gamb. 10)







Gambar 11. Sadapan pundak kanan (VR) dan yang dihantarkan
(aVR).
V6 : pada garis aksiler dan tengah,
setelah kiri horizontal dari V4.


Vektor yang mengarah pada elektroda yang
menjelajah, direkam positif 9ke atas), dan sebaliknya vektor yang menjauhi
elektroda yang menjelajah, direkam negatif (gamb. 17).
Sadapan V1. Vektor pertama
direkan positif, yang kedua negatif, yang ketiga kadang-kadang masih agak
positif. Terdapat suatu kompleks rS, kadang-kadang kompleks rSr’ (gambar 19).
- ST
segment diukur dari akhir gelombang S sampai awal gelombang T
ELEKTROKARDIOGRAM OR EKG
a. Pengertian
Elektrokardiogram (EKG)adalah suatu gambaran secara grafis mengenai
aktifitas elektris dari serabut otot jantung. Yang secara sederhana sebagai alat untuk memeriksa penderita yang mempunyai
gejala atau tanda yang mengarah pada penyakit kardiovaskular.
b. Dasar Fisiologik EKG
EKG dapat digunakan menurut
jalan pemikiran ini dengan sedikit pengertian tentang proses fisiologik yang
terlibat.
Aktifitas listrik dari jantung
mempunyai keunikan dan setiap bagian dari jantung mempunyai karakteristik
elektrofisiologis yang khas.
|
![]() |
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||
|
|||||||||
|
|||||||||
Gambar 1. Gambaran
potensial aksi yang berbeda pada setiap jaringan jantung
Dengan
pemahaman ini diharapkan bahwa dasar-dasar aktifitas listrik jantung baik pada
keadaa normal maupun pada berbagai gangguan irama jantung dapat dipahami.
Aktifitas
listrik jantung didasari oleh adanya arus pergerakan ion dari luar sel ke dalam
sel atau sebaliknya melalui saluran ion atau ion channel.
Masukya ion-ion melalui
salurannya bersifat pasif dan arahnya ditentukan oleh perbedaan konsentrasi
ion-ion diluar dan di dalam sel.
|
Komposisi
|
Ekstrasel
|
Intrasel
|
|
|
Plasma
|
Interstitiel
|
||
|
Kation
Na+
K+
Ca++
Mg++
|
143,0
4,2
1,3
1,3
|
140,0
4,0
1,2
0,7
|
14,0
140,0
<1
20,0
|
|
Anion
Cl-
HCO3-
HPO4-
Protein
|
108,0
24,0
2,0
1,2
|
108,0
28,3
2,0
0,2
|
4,0
10,0
11,0
4,0
|
Tabel 1. Komposisi cairan
ekstrasel dan intrasel (mEq/liter)
Proses terbukanya dan
tertutupnya saluran ion dikenal sebagai proses Gating. Proses gatingi salurang ion selalu berada dalam tiga
keadaan fungsional yang dinamis.
-
Tertutup
-
Terbuka (aktivasi)
-
Refrakter (in aktivasi)
Kanal-kanal ion bersifat
relative spesifik terhadap ion-ion tertentu misalnya :
-
Kanal
kalsium terutama dilalui Ca++
-
Kanal
kalium terutama dilalui K+
-
Kanal
natrium terutama dilalui Na+
Kanal-kanal
tersebut dikontrol oleh suatu mekanisme “Pintu Gerbang” sehingga dapat membuka
dan menutup tergantung pada kondisi transmembran.
Terbukanya
kanal tersebut akan mengakibatkan ion mengalir melewati membran menurut
konsetrasi gradiennya (Concentration Gradients) yaitu dari sisi konsentrais
tinggi ke sisi konsetrasi rendah.
Pada
waktu sel tidak aktif (resting potensial) tingakat permeability membran sel
jantung terhadap berbagai elektrolit juga berbeda.
Membran
sel jantung sangat permeabel terhadap K+ dan Cl, sedikit permeabel terhadap Na+ dan tidak permeabel anion organic.
Untuk
mmeprtahankan gradien tertentu agar ion-ion dapat kontinyu berdifusi melalui
kanal ion, pada membrane sel terdapat suatu carrier transport system ( Na+,
K+, ATP- ase) yang dikenal sebagai pompoa sodium, yang berfungsi
memompa Na+ keluar dan K+
masuk ke dalam sel, maka bila sel dalam keadaan tidak aktif, terjadilah
distribusi yang tidak seimbang dari ion –ion dimana Na+ dan Cl-
lebih banyak berkumpul di dalam membran sel.
Karena
ion-ion yang sejenis cenderung membentuk
persamaan elektron di dalam dan di luar sel, maka distribusi yang tidak
seimbang ini menimbulkan gaya tarik menarik antara ion-ion dimana ion negatif
berkumpul di permukaan dalam, sedangkan ion positif berkumpul di permukaan luar
membrane sel, keadaan ini dikatakan sel dalam keadaan stadium polarisasi.
Karena
ion-ion memiliki muatan listrik, maka pada waktu sel tidak aktif, terdapat
perbedaan potensial (resting membrn potensial) antara permukaan dalam dan luar
membaran sel sebesar kira-kira 95 mv dimana muatan intra seluler lebih negatif
dibandingkan muatan ekstraseluler sehingga ditulis -95 mv.
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar 2. A. Potensial Aksi Otot Ventrikel
B. Petensial Aksi Nodus SA
Apabila membran mengadakan depolarisasi
dari – 95 mv mencapai thressold (Nilai Ambang Potensial) untuk sel otot jantung
yaitu – 70 mv, maka perubahan oiltase ini akan menjadi trigger untuk membuka
kanal ion Na+ secara
mendadak, sehingga terjadilah pengaliran Na+ yang sekonyong-konyong
masuk ke dalam sel. Perpindahan muatan positif yang tiba-tiba masuk dari luar
ke dalam sel mengakibatkan potensial membran secara mendadak pula berubah dari
nilai negatif menjadi positif. Ini disebut proses depolarisasi.
Setelah fase
depolarisasi berlalu, membrane sel akan mengalami proses redistribusi ion-ion
kembali ke stadium istirahat yang disebut sebagai proses repolarisasi.
Jadi setiap faktor yang tiba-tiba merubah
permeabilitas membrane sel terhadap ion Na+, dapat memulai suatu
rangkaian perubahan yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat dan
nantinya kembali ke keadaan semula. Kejadian ini disebut “ Action Potential”.
C. Sistem Konduksi Jantung
I. Nodus SA
Nodus sinus merupakan kepingan otot khusus, kecil,
tipis, dan berbentuk elips, dengan lebar kira-kira 3 milimeter, panjangnya 15
mili meter dan tebalnya 1 mili meter, yang terletak di dalam dinding lateral
superior dari atrium kanan tepat disebelah bawah dan sedikit lateral VCS. Serat
–serat sinus secara langsung berhubungan dengan serat-serat atrium, sehingga
setiap potensial aksi yang mulai di dalam nodus sinus akan menyebar ke dalam
atrium.
![]() |
Gambar 3. Sistem Konduksi Jantung.
Perhatikan bahwa potensial nodus sinus mempunyai muatan negatif antara
lepasan hanya sebesar -55 sampai – 60 milivolt,sedangkan serat ventrikel
mempunyai – 85 sampai -95 milivolt. Penyebab dari berkurangnya muatan negatif
ini adalah membrane sel sinus membocorkan ion-ion natrium.
Pada tingkat negativitas kurang dari -60
milivolt maka sebagian besar, saluran cepat, natrium sudah menjadi inaktif. Dan
jika potensial mencapai ambang batas voltase kira-kira -40 mv mak yang terbuka
adalah saluran lambat kalsium – natrium yang dapat menyebabkan potensial aksi. Jadi
pada dasarnya sifat pembocoran dari serat-serat nodus sinus terhadap ion-ion natrium
menyebabkan timbulnya peransangan sendiri.
Perhatikan gambar fase 4 pada otot
ventrikal itu datar adanya samapai ada ransangan berikutnya. Tetapi pada nodus SA, fase 4
mengalami depolarisasi lambat atau depolarisasi diastolic spontan. Yang
dikenal sebagai pacemaker potensial.
Pacemaker potensial ini
mempersiapkan depolarisasi selalu dalam keadaan siap untuk mencapai nilai
ambang rangsang, karasteristik potensial aksi nodus SA lainnya adalah bahwa
potensial membran istirahat lebih positif, fase 0 yang landai, fase 2 yang
pendek, dan fase repolarisasi yang lebih cepat.
Dasar ionis dari potensial aksi ini
akibat pengaruh yang dominan oleh saluran Ca2+ tipe T dan Ik. Dan
ini semua memberi konstribusi terhadap aktifitas jaringan ini sebagai Pemacu
Jantung.
II. Traktus Internodal
Terdiri
atas : - Traktus internodal anterior
-
Tractus media (Wenckebach)
-
Tractus posterior (Thorel)
Penyebab kecepatan konduksi yang
tinggi dalam berkas-berkas ini adalah sejumlah serat-serat konduksi khusus yang
mirip serabut purkinje yang bercampur dengan otot atrium.
III. Nodus A-V
Nodus ini terletak pada dinding
posterior septum atrium kanan, tepat di
belakang katup trikuspidalis dan berdekatan dengan pembukaan sinus koronarius.
Setelah berjalan melalui jalur
internodus, impuls akan mencapai nodus A-V kira-kira 0,03 detik dari Nodus
Sinus, kemudian terjadi penundaan lebih lanjut selama 0,09 detik di dalam nodus
AV sendiri sebelum impuls masuk ke bagian penembusan berkas A-V. penundaan
terakhir selama 0,04 detik terjadi di dalam penembusan berkas A-V ini. Sehingga
jumlah penundaan seluruhnya 0,16 detik.
Tujuan penundaan ini adalah :
- Pengisian ventrikel secara optimal selama kontraksi atrium.
- Optimalisasi kontraksi ventrikel dengan jalan stabilisasi daun katup dan septum sebelum kontraksi.
- Memaksimalkan proses ejeksi dengan menyamakan aktivasi kontraksi pada dinding ventrikel.
IV. Serabut Purkinje
Serabut
purkinje ini berjalan dari nodus A-V melalui berkas A-V dan membelah menjadi berkas
cabang kiri dan kanan yang terletak di bawah endokardium pada kedua sisi septum.
Tiap-tiap cabang menyebar ke bawah menuju apeks ventrikel, secara bertahap akan
memecah menjadi cabang-cabang yang lebih kecil, yang berjalan mengelilingi tiap
ruang ventrikel dan kembali menuju basis jantung.
Serat
purkinje merupakan serat yang sangat besar daripada serat otot ventrikel normal
yang menjalarkan potensial aksi dengan kecepatan 2 – 4,0 m/detik. Keadaan ini
memungkinkan penjalaran yang cepat impuls jantung ke seluruh system
ventrikular.
|
Jaringan
|
Kecepatan Konduksi
|
Frekuensi rangsang
Yang dihasilkan (koli/menit)
|
|
Nodus SA
Otot Atrial
Nodus AV
Berkas His
Serabut
Purkinje
Otot
Ventrikel
|
0,05
1,0 – 1,2
0,02 – 0,05
1,2 – 2,0
2,0 – 4,0
0,3 – 1,0
|
60 – 100
–
40 – 45
–
25 – 40
–
|
Tabel 2. Kecepatan konduksi pada jaringan jantung
(Modifikasi dari ganong WF, 1999 dan Katz, AM 1997)
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar 4. Depolarisasi dari atrium kanan dan kiri pada
bidang frontal dengan vektor-vektor yang juga diproyeksikan pada segitiga
einthoven.
Gambar 5. Perjalanan depolarisasi yang bertahap dari
ventrikel kiri dan kanan, dengan potensial 1a, 1b, 2b, 2c, 2d, 3a, 3b, dan 3c.
Penjelasan :
-
Depolarisasi dimulai dari sisi kiri septum
ventrikulorum dan kemudian sisi kanannya (1a + 1b = vector 1)
-
Kemudian
depolarisasi pad apeks 2a + 2b ; lalu menyusul depolari dinding bebas ventrikel
2c + 2d (2a + 2b + 2c + 2d = vektor 2)
-
Bagian
terakhir adalah konus arteriosus, bosal
septum dan posterobosal ventrikel kiri (3a + 3b + 3c = vector 3)
![]() |
Gambar 6. Depolarisasi dari kedua ventrikel yang
digambarkan secara skematis, sebagai tiga vektor potensial yang sudah dipadukan
|
|||
![]() |
|||
Gambar 7. Segi tiga Einthoven dengan
ketiga vector pada bidang frontal
D. Prinsip Dasar EKG
Jaringan tubuh berperan sebagai penghantar
listrik yang baik karena mengandung elektrolit. Perubahan aktifitas listrik
pada otot jantung akan dibesarkan kepermukaan tubuh dan dicatat oleh EKG. EKG
mencatat perbedaan potensial listrik antara dua elektrode yang diletakkan pada
permukaan tubuh.
Bila jantung dalam keadaan diastol
membrane sel otot jantung mengalami polarisasi-muatan positif lebih banyak di
luar sel dan muatan negatif lebih banyak di dalam sel. Pada saat tersebut,
electrode pada permukaan tubuh tidak mendeteksi adanya perbedaan listrik,
karena semua bagian jantung mengalami polarisasi. Jadi pencatatan pada EKG
tidak memperlihatkan adanya defeksi dari garis potensial nol.
![]() |
|||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||
Gambar 8. Pengaruh depolarisasi dan
repolarisasi terhadap defleksi EKG.
Eksitasi pada jantung menyebabkan sel-sel
otot jantung mengalami depolarisasi. Bagian luar dari sel menjadi lebih
bermuatan negatif. Jadi, terjadi perbedaan potensial antara sel yang mengalami
depolarisasi dan sel yang belum tereksitasi. Perbedaan potensial ini dicatat
oleh elektroda dipermukaan tubuh, dan arah defleksi tergantung dari polaritas
elektroda. Bila seluruh sel otot jantung telah mengalami depolarisasi, semua
bagian luar sel telah bermuatan negatif, dan defleksi EKG akan kembali menjadi
nol.
Bila proses repolarisasi mempunyai arah
yang sama dengan proses depolarisasi, defleksi EKG akan berlawanan selama proses
repolarisasi. Hasil pencatatan dikenal sebagai biphasic action potential oleh
karena kedua gelombang mempunyai defleksi yang berlawanan.
Potensial permukaan, atau besarnya arus
listrik yang terekam di permukaan tubuh tergantung dari posisi elektroda,
orientasi dan besarnya dipole. Menurut kesepakatan, gelombang depolarisasi yang
mendekati elektroda positif akan memberikan defleksi keatas (positif) pada
pencatatan EKG. Gelombang depolarisasi yang mendekati elektroda negatif akan
memberikan defleksi kebawah (negatif). Bila gelombang depolarisasi tegak lurus
terhadap elektroda tidak terjadi defleksi. Pada gambar 9 dapat dilihat hubungan
antara gelombang depolarisasi dan defleksi yang sangat penting dalam melakukan
analisa perekaman EKG.
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar 9. Defleksi EKG. (A) gelombang depolarisasi
mendekati elektroda posistif menimbulkan defleksi keatas. (B) gelombang
depolarisasi mendekati elektroda negatif menimbulkan defleksi negatif. (C)
gelombang depolarisasi tegak lurus terhadap elektroda tidak `menimbulkan
defleksi.
`
E. Pencatatan EKG
Oleh
einthoven telah diperkenalkan tiga sadapan standar (standar limb lead) :
I. « lengan kanan (negatif) – lengan kiri (positif)
II. « lengan kanan (negatif) – tungkai kiri (positif)
III. « lengan kiri (negatif) – tungkai kiri (positif)


|
|
|
||||||
|
||||||

Gambar 10. Ketiga
sadapan standar dari Einthoven
Wilson memperkenalkan elektrokardiografi
unipoler. Di sini diukur antara terminal sentral (CT) dan suatu titik pada
permukaan tubuh (satu pool = satu kutub). CT diperoleh dengan cara
menghubungkan ketiga ekstremitas dengan
pertolongan suatu saklar-hambatan tertentu, melalui mana kita dapat memperoleh
satu titik, dengan potensial yang konstan, yang mempunyai nilai mendekati nol.
Elektroda yang menjelajah (explore)
(unipoler) diletakkan pada pundak Kanan (VR), pada pundah kiri (VL), dan pada
kaki kiri atau pinggul (VF).
Dengan cara memutuskan hubungan antara CT
dan ekstremitas yang bersangkutan, kita akan memperoleh hasil diperkuat (augmented = a),
berturut-turut aVR, aVL dan AVF (gamb. 11, 12 dan 13).
![]() |
![]() |




|
|
|
|
|
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
|
|||||||||||
Gambar 12 Sadapan pindak kiri (VL) dan yang dihantarkan
(aVL)
![]() |
![]() |
Gambar 13. Sadapan kaki kiri (VF) dan yang
dihantarkan (aVF)
Dalam keadaan yang sebenarnya, elektroda
tidak diletakkan pada pundak dan/atau pinggul, tetapi berturut-turut pada
pergelangan tangan dan pergelangan kaki; sebab, pergelangan tangan atau
pergelangan kaki, adalah sama saja seperti pundak atau pinggul, karena lengan
atau tungkai bawah yang terletak di antaranya, adalam merupakan ”sambungan
kawat elektroda”.
Terdapat enam sadapan unipoler pada
dinding toraks yang diketahui. Dengan cara ini, kita mengukur perbedaan
potensial antara titik CT dan elektroda yang menjelajah, pada dinding toraks
(Gamb. 14). Elektroda dipasang pada enam tempat yang berbeda-beda pada dinding
toraks (gamb. 15):
V1 : sela interkostal keempat kanan,
bersebelahan dengan stermum,
V2 : sela interkostal keempat kiri,
bersebelahan dengan stermum,
V3 : diantara V2 dan V4
V4 : pada garis medioklavikuler dalam sela
interkostal kelima,
V5: diantara V4 dan V6
V6 : pada garis aksiler dan tengah,
setelah kiri horizontal dari V4.
|
Gambar -14 .Titik CT dan
elektroda yang menjelajah


Gambar -15.Keenam lokasi
yang berbeda-beda dari sadapan
pada
dinding thorax
F. Segitiga Einthoven
Elektrokardiogram dapat juga merupakan
perpaduan dari ketiga vektor dalam bidang frontal (lihat gambar - 6). Untuk itu
digunakan suatu segi tiga sama sisi. Segi tiga ini adalah ciptaan Einthoven
sebagai bentuk khayal untuk menggambarkan keterkaitan antara sadapan I, II dan
III.
Jantung dianggap sebagai titik khayal yang
terletak di tengah-tengah segitiga. Aktivasi otot jantung secara elektris
menyebabkan terjadinya vektor yang tergambar sebagai panah dalam segitiga.
Karena proyeksi dari ketiga vektor
tersebut (gambar – 7 ) pada sisi-sisi segitiga, maka dapat dihitung bagaimana
wujud dari sadapan I, II dan III itu (lihat juga gambar – 5 dan 6 ). Alat EKG
sudah disambungkan sedemikian rupa, sehingga apabila pundah kiri menjadi
positif, maka defleksi pada sadapan I mengarah ke atas. Begitu pula, apabila
kaki kiri menjadi positif, maka defleksi pada sadapan II dan III juga mengarah
ke atas (gambar. 16).
![]() |
![]() |
![]() |
Gambar -16.
A. Sadapan I., B. Sadapan II, C. Sadapan
III
Pada gambar 7 , vektor 1 mengarah ke kanan
dengan begitu menyebabkan terjadinya gelombang negatif (gelimbang Q) pada
sadapan I, yang mempunyai elektroda positif pada lengan kirinya.
Vektor 2 menuju ke arah kiri bawah, dan
menyebabkan puncar R yang relatif besar, pada sadapan I dan II, tetapi tidak
pada sadapan III.
Akhirnya vektor 3
menuju ke arah kanan atas, dan dengan begitu menyebabkan gelombang S pada
sadapan I, II dan III. Dengan ini, konfigurasi dari sadapan I, II dan III,
seperti yang diperlihatkan pada gambar 16, telah dapat dijelaskan.
Sadapan V1 s/d V6
adalah sadapan aVR, aVL dan aVF telah diperkuat secara artifisial (buatan), dan
karena itu sebenarnya tidak lagi unipoler, tetapi walaupun demikian, mereka
dapat dianggap unipoler.
Vektor yang mengarah pada elektroda yang
menjelajah, direkam positif 9ke atas), dan sebaliknya vektor yang menjauhi
elektroda yang menjelajah, direkam negatif (gamb. 17).
Gambar 17. Ketiga Vektor pada bidang frontal, dengan
sadapan unipoler aVR, aVL, V1, V6.
Sadapan aVR. Sadapan ini memperlihatkan terutama suatu defleksi yang
negatif. Vektor kedua mengarah menjauhi elektroda, vektor ketiga mengarah
menuju ke elektroda. Dengan begitu terjadi pertama-tama suatu defleksi negatif
yang besar (gelombang Q), diikuti oleh gelombang positif yang kecil (puncak r):
terdapatlah suatu kompleks Qr (gambar (18A).
![]() |
![]() |
![]() |
Gambar
18. (A) Sadapan aVR, (B) Sadapan aVL, (C) Sadapan aVF
Sadapan aVL. Vektor pertama direkam
negatif, yang kedua dapat terekam positif yang cukup kuat, apabila sumbu
elektrisnya mengarah ke horisontal, atau bahkan bila mengarah ke kiri atas.
Kita melihat suatu kompleks qR (gamb. 18B).
Sadapan AVF. Vektor pertama boleh darinya
dalam konfigurasi aVF. Vektor kedua, tergantung dari kedudukan sumbu
elektrisnya, akan menyebabkan puncak R (pada sumbu vertikal) atau suatu
gelombang S (pada sumbuh horisontal). Vektor ketiga, berperan pada pembentukan
gelombang S. Suatu kompleks Rs (gamb. 18C).
Sadapan V1. Vektor pertama
direkan positif, yang kedua negatif, yang ketiga kadang-kadang masih agak
positif. Terdapat suatu kompleks rS, kadang-kadang kompleks rSr’ (gambar 19).
Gambar 19. Sadapan V1
Sadapan V6. Vektor
pertama direkam negatif, kedua positif, ketiga negatif. Terdapat suatu kompleks
qRs (gambar 20 ).
Gambar 20. Sadapan V6
G. Penamaan Gelombang EKG
![]() |
Gambar. 21. Potensial aksi yang diplot
menjadi kompleks EKG
-
Gelombang
P adalah depolarisasi atrium
-
Gelombang
Q, R, S membentuk kompleks QRS adalah depolarisasi ventrikel
Diukur dari awal gelombang Q
sampai akhir gelombang S
-
Gelombang
T adalah repolarisasi ventrikel
-
Gelombang
Q adalah defleksi negatif pertama
-
Gelombang
R adalah defleksi positif pertama
-
Gelombang
S adalah defleksi negatif sesudah R
-
Defleksi
ke dua pisitif disebut R’
-
Huruf
kecil q, r dan s dan berturut-turut r’ dan s’ digunakan bila defleksi kecil
-
Gelombang
U adalah defleksi yang mengikuti gelombang T dan timbul sebelum P berikutnya.
-
PR
Interval diukur dari awal gelombang P sampai awal gelombang Q/R
-
QT
Interval diukur dari awal gelombang Q sampai akhir gelombang T
- ST
segment diukur dari akhir gelombang S sampai awal gelombang T![]() |
|
Gambar
22. EKG dengan puncak, segmen dan jarak – waktu
DAFTAR PUSTAKA
1.
Katheleen
Dracup, RN, DNSc. In : Meltzer’s Intensive Coronary Care :
a manual for nurses : Los Angeles,
California, 1995.
2.
A. A. H. Meurs, A.C
Arntzenius : Practische Elektrocardiografie. Jakarta, 1995.
3. Mary.
M. Canibbio, RN, MN. In : Cardiovascular
Disorders . Los Angeles, California. 1990.
4.
John. R. Hampton, In : The ECG in Practice, London, 1989.
5. Guyton & Hall, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran
: Edisi 9 EGG, Jakarta, 2000.
6. Dr. Sjukri Karim, Dr. Peter Kabo : EKG
dan Penanggulangan beberapa Penyakit Jantung untuk Dokter Umum.
Jakarta, 2001.
7. Dr. Irawan Yusuf, PhD. Sistem
Kardiovaskuler.
Makassar, 2001.

































Komentar
Posting Komentar